Bedol Desa
Demi kenyamanan akses dan editing, jurnal kami bertransmigrasi ke http://rlwriterscircle.blogspot.com/. Sampai berjumpa lagi
Erick S.
Demi kenyamanan akses dan editing, jurnal kami bertransmigrasi ke http://rlwriterscircle.blogspot.com/. Sampai berjumpa lagi
Erick S.

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } A:link { color: #0000ff } –>
<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } A:link { color: #0000ff } –>
Sesi pertemuan kali ini dihadiri oleh (ki-ka): Uli, Anas, Wahyu, Indra, Selvi, Andika, dan saya. Kegiatan kali ini adalah membacakan karya yang sudah ditulis dari rumah. Andika menjelaskan kepada Indra, seorang pendatang baru, bahwa jika penulis mempunyai karya, silahkan dibawa ke forum Reading Lights Writers’ Circle. Karya itu akan di-share dengan teman-teman lain yang tak bakalan menanggapi dengan kritikan menyakitkan, tetapi dengan apresiasi kepada karya yang bersangkutan.
Ok. Dari sekian banyak orang, hanya dua orang yang membawa karya: saya dan Andika. Karena punya saya lebih pendek, maka sayalah yang pertama kali membacakan karya. Saya menulis cerita pendek yang berjudul ‘Tentang Laura’. Cerita pendek ini berisikan monolog seorang perempuan bernama Sati yang sedang di-tattoo gambar Atman.
Selama di-tattoo, Sati teringat pada teman lamanya, Laura. Ia pun kembali pada masa kecilnya yang indah, sebagaimana pada saat-saat sedih ketika ia harus berpisah dengan Laura. Perasaannya bergejolak karena selama berpisah Sati sering mendengar kabar yang tidak enak mengenai temannya itu.
Sati tersentak saat melihat foto perempuan setengah telanjang dengan tattoo naga yang melingkar liar di punggungnya. Ia tersadar bahwa perempuan itu tak lain adalah Laura. Penampilan temannya itu berubah sangat drastis, satu-satunya yang membuatnya merasa mengenal Laura hanyalah sebuah tattoo Yin Yang dengan inisial S dan L di dalamnya. Sati ingat Laura pernah berjanji akan merajah tubuh dengan namanya dan nama Sati sebagai pertanda keabadian dan simbol bahwa mereka tak akan terpisahkan.
Sati lantas memutuskan turut menggambar tattoo Yin Yang di tubuhnya sebagai tanda kerinduannya kepada Laura. Ia ingin mereka saling bertemu, saling mengenang masa kecil, saling bersahabat, saling mencintai, saling bertukar cerita tidak suka laki-laki, atau sekadar saling bertanya, "Apa kamu masih suka dengan perempuan?"
"Gue suka, tulisannya lancar,” komentar Andika. “Sebaiknya tokoh Edo (penggambar tattoo) lebih dideskripsikan sehingga pembaca tidak kaget dengan tokoh Edo yang tiba-tiba ada."
Anas berkomentar, "Plot ceritanya sangat cepat perpindahannya, seperti tulisan saya dan Fadil. Saya juga belum tahu bagaimana menyiasatinya."
"Mungkin karena monolog, temponya jadi cepat,” sahut Andika. “Kalau seperti itu, sebaiknya disiasati dengan deskripsi."
Wahyu bertanya, "Atman itu apa sih?"
"Atman atau Aum itu simbol, seperti lafadz Allah-nya Islam," jawab saya.
"Memangnya itu bahasa apa ya?" tanya Indra.
Saya menjawab, "Ini berasal dari agama Hindu."
Peserta the circle pun membahas buku The Da Vinci Code karangan Dan Brown yang begitu tebal padahal hanya terjadi dalam waktu satu hari. Menurut mereka plot-nya cepat sehingga tidak terasa bosan membacanya. Setelah itu, Andika mulai membacakan cerita pendeknya.
Cerita pendek Andika berkisah mengenai Ranto yang mempunyai sahabat seorang penulis bernama Hani. Suatu hari, Ranto pergi ke toko buku Reading Lights dan menemukan Hani sedang menyampul buku. Hani berkeluh kesah karena naskahnya dikritik oleh istri editor penerbitan Jalastocking. Ia kesal karena karyanya dikritik tanpa ditanya latar belakangnya menulis terlebih dahulu. Kemudian cerita bergulir ketika pembicaraan Ranto dan Hani menyerempet nama Francis, seorang komikus, yang menulis kisah Ranto coming out Ranto seorang homoseksual. Ranto tidak menyukainya namun ia memendamnya.
Cerita berlanjut, Ranto menyudahi pembicaraan dan bersiap pergi ke travel dan ke Jakarta untuk mengikuti sebuah workshop penulisan. Di pul travel, ia kehilangan dompetnya. Ranto lantas kembali ke Reading Lights, melihat apakah dompetnya tertinggal di sana atau tidak. Ternyata dompetnya tidak ada, ia memutuskan kembali ke tempat travel sambil mencari dan bertanya kepada ibu-ibu yang menjual jamu, bapak yang bermain karambol, dan lainnya, apakah mereka melihat dompetnya. Hasilnya nihil. Ranto melapor ke polisi tetapi polisi tidak menemukan jalan keluar. Dengan perasaan kesal, ia kembali ke Reading Lights. Ranto kesal sekali karena ia tidak bisa pergi ke Jakarta. Dengan hilangnya dompet, Ranto merasa tidak takut kehilangan apapun termasuk teman sehingga ia memutuskan untuk menelepon Francis, dan mengatakan kalau ia tidak suka dengan Francis yang menulis kehidupan pribadinya. Cerita pun selesai.
Uli berkomentar, "Gue masih enggak ngerti tentang komik yang dibuat Francis. Sepertinya kurang dijelaskan tentang komik yang menceritakan kehidupan pribadinya Ranto."
"Mungkin bagi kita cerita itu tidak masalah karena ini komunitas kita dan kita merasa dekat dengan cerita itu,” komentar Anas. “Tapi kalau orang lain yang tidak tahu bagaimana?"
Andika menjawab, "Gue sudah berusaha keras untuk menggambarkan situasinya agar orang yang tidak tahu bisa mengerti."
Uli berkomentar lagi, "Gue enggak ngerti tentang istilah ‘keluar dari lemari’ di cerpen tadi. Itu apa sih maksudnya?"
"Iya, sebaiknya dijelaskan," tambah Indra.
“Di Bahasa Inggris kan ada istilah closet homosexual,” terang Andika. “Kalau diterjemahkan maka akan jadi homoseksual dalam lemari. Jadi coming out gua terjemahkan sebagai keluar dari lemari.”
Anas bertanya, "Apa sih yang menyebabkan Ranto menjadi homo?"
Andika menjawab, "Sebenarnya enggak penting ya karena bukan itu yang mau dibahas dan enggak ada hubungannya sama cerita ini. Gue mau menceritakan tentang orang suka memendam perasaan, yang tidak jujur sama dirinya sendiri, bukan tentang kenapa ia bisa homoseksual."
Anas memandang saya. "Kan disini ada anak psikologi, mungkin bisa dijelaskan kenapa Ranto bisa homo."
Saya - yang hanya mendengarkan dan menulis apa yang saya dengar untuk blog ini - jadi merasa kena batunya. Saya protes, "Lho, Dika yang nulis, kok gue yang kena batunya?"
Setelah saya menjelaskan mengenai homoseksual, Andika meminta pendapat ke Wahyu. Wahyu bertanya, "Lo nulis berapa halaman?"
"Sebelas halaman," jawab Andika.
"Kalau gue sih, gue enggak bisa nulis sepanjang itu. Bawaannya ingin cepat selesai terus."
Saya bertanya ke Andika, "Dik, ceritanya si Ranto berlari dari Reading Lights ke travel. Travelnya seberapa jauh sih?"
Andika menjawab, "Itu lho, Ni, yang di Cihampelas."
"Wah… lari dari sini ke travel?" tanya saya lagi.
"Mungkin gue kurang menjelaskan jaraknya kali ya. Mungkin kalau orang lain yang baca, enggak tahu jarak dari sini ke travelnya bagaimana," ujar Andika.
Saya kembali bertanya, "Sebelumnya Ranto cerita kalau dia melewati tukang fotokopi, bapak yang main karambol, dan ibu yang menjual jamu. Lalu ketika ia kehilangan dompetnya, ia bertanya ke tukang fotokopi, bapak yang main karambol, dan ibu yang menjual jamu. Kok kayaknya terjadi pengulangan kata-kata ya?"
Andika menjawab, "Sebenarnya gue mau menekankan kalau ini jalan yang sering Ranto lewati tapi ia tidak pernah memperhatikan orang disekelilingnya, yaitu para penjual itu. Nah, gue mau menekankan bahwa orang hanya akan memperhatikan orang lain ketika ada butuhnya saja."
"Kayaknya kalau orang mencari dompet yang hilang di trotoar di malam hari, susah deh,” komentar Uli.
Saya bertanya, "Terus kok tadi ada tokoh di Reading Lights yang hanya dipakai inisial I dan R saja?"
"Bagi gue, tokoh I dan R itu enggak penting,” sahut Andika. “Jadi enggak diceritakan dan enggak digambarkan lebih lanjut. Jadinya gue kasih inisial saja."
Saya bertanya lagi, "Memangnya ada ya cerpen yang pakai inisial?"
"Sementara ini sih yang ada dipikiran gue adalah memberi inisial," jawab Andika setelah berpikir cukup lama.
Cerpen Andika menuai banyak pertanyaan karena ceritanya panjang sekali. Masih ada beberapa orang yang belum mengerti cerita Andika dan apa hubungannya kehilangan dompet dengan kasus Ranto dengan Francis. Intinya, Andika ingin menjelaskan bahwa, "Biasanya kalau orang kehilangan dompet itu seperti kehilangan segalanya karena di dompetnya ada uang, KTP, ATM, dan lainnya. Jadi dompet sangat berharga. Nah, karena kehilangan itu, Ranto sudah tidak takut untuk apa-apa lagi, termasuk mengatakan perasaan tidak sukanya ke Francis."
Saya berkomentar, "Oooo.. jadi kehilangan dompet itu menjadi trigger marahnya Ranto ke Francis ya?"
"Iya."
Saya berkomentar lagi, "Jadi, kalau cerita ini tentang Ranto dan Francis, kenapa tadi bercerita banyak sekali tentang Hani? Bukannya sebaiknya menceritakan Francis?"
Andika menjawab, "Gue tuh ingin menggambarkan bahwa Ranto bersahabat dengan Hany tanpa menggunakan kata ‘Ranto bersahabat dengan Hany’ tapi gue ingin mendeskripsikan situasinya dan membuatnya lebih panjang."
Diskusi mengenai cerpen Andika pun berakhir. Andika menulis catatan-catatan kecil di kertasnya. Hujan turun. Sambil menunggu hujan reda, kami berdiskusi mengenai film dan buku-buku. Beberapa menit kemudian hujan akhirnya berhenti.
Niaw Miaw
Nia adalah anak tunggal yang kemungkinan besar tidak bakal dapat warisan. Calon sarjana psikologi ini sedang mencoba aktif kembali dalam komunitas penulis Reading Lights Writers’ Circle. Sesuai dengan tahun kelahirannya, penampilan penyuka Radiohead ini segarang macan. Selalu merahasiakan nama lengkap, Nia aktif sebagai kontributor Psigoblog dan aktif menulis blognya sendiri: mynameisnia.blogspot.com.
<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>
Agenda pertemuan mingguan Reading Lights Writers’ Circle kemarin adalah nonton film bareng. Acara ini rutin dilakukan the circle setiap sebulan sekali. Siapapun boleh menentukan film yang akan ditonton. Adapun syarat-syaratnya adalah: durasi film di bawah dua jam, bersifat fresh di Rotten Tomatoes (ratingnya 60% ke atas), plotnya tidak konvensional, dan tidak mengandung nudity.
Setelah menonton dua film bernuansa muram pada acara nonton bareng sebelumnya (There Will be Blood dan Persepolis), kali ini saya berinsiatif memilih film yang lebih ringan dan ‘positif’ atau yang komedi sekalian. Maka film yang muncul di benak saya adalah Me and You and Everyone We Know dan Ghost World. Celakanya, saya tidak menerima pesan singkat Erick, fasilitator the circle, yang mengonfirmasi bahwa agenda minggu ini memang nonton film bareng. Alhasil saya baru ke tempat rental DVD pada saat-saat terakhir, hanya untuk mendapati bahwa Me and You … dan Ghost World ternyata dipinjam orang! Kecewa berat, saya tak mampu berkonsentrasi dalam memilih film. Akhirnya film yang terpinjam malah sebuah film yang tidak ringan, tidak positif, dan bukan ber-genre komedi. Judulnya Talk to Her, disutradarai Pedro Almodovar. Hahahahaha.
Sebelum keping DVD dimasukkan ke dalam player-nya, saya menceritakan sedikit latar belakang film ini kepada teman-teman yang lain: Erick, Aji, Selvi, dan Nia. Kegemaran Pedro Almodovar adalah mengangkat karakter-karakter yang terpinggirkan. Mulai dari guru sekolah katolik paedophile, sutradara homoseksual, biarawati penderita HIV/AIDS, istri pembakar suami sendiri, sampai perempuan sedang nervous breakdown. Dengan penuh penyesalan, saya mengakui ada adegan telanjang dalam Talk to Her. Pembelaannya, “Kita bersedikit, lagipula bukannya semua sudah dewasa?”
Akhirnya kami pun menonton Talk to Her. Menurut Wikipedia, film-film Almodovar bertutur dengan narasi kompleks melodrama yang melibatkan penggunaan budaya pop, lagu-lagu populer, lelucon keji, warna film yang pekat, dan dekorasi yang glossy. Meskipun film ini tidak seramai film Almodovar pada era 80-an tetapi tetap saja film ini memakai formulasi tersebut. Di mana selain narasi yang berbelak-belok, film ini juga memasukkan pertunjukan tari ‘Trenches’, sebagaimana pertunjukan musik di mana Bob Dylan-nya Brazil, Caetano Veloso, membawakan lagu Cucurrucucú Paloma secara akustik dalam sebuah adegannya. Gila merinding! Kenorakan era 80-an masih meninggalkan jejaknya di adegan wawancara televisi. Almodovar juga menyisipkan sebuah film hitam putih yang sukses memancing tawa teman-teman the circle. Saya suka banget sama Talk to Her, tetapi menontonnya bersama teman-teman tidak hanya menimbulkan perasaan aneh tetapi juga menyenangkan.
Ruangan temaram. In-focus memroyeksikan adegan pertunjukan tari terakhir. Waktu menunjukkan jam tujuh kurang lima belas. Riswan, pegawai senior Reading Lights Bookstore, muncul di ambang pintu ruang atas. Membuktikan eksistensinya ia pun bertanya, “Kalian masih belum selesai juga?”
“Belum. Sebentar lagi,” jawab saya.
Tak lama kemudian credit-ends bergulir di layar. Saya menyalakan lampu dan melihat ke sekeliling. “Bosan, nggak?”
“Nggak, sih,” ujar Nia yang hari itu memakai kaos hitam.
Kami pun mulai membicarakan Talk to Her. Agak sulit mengingat adegan favorit karena film ini sangat menghanyutkan. Erick bilang alurnya lambat, tetapi nggak bikin bosan. Dia membandingkan Almodovar dengan Alfonso Cuaron. Lho, kok? Namun begitu Erick merekomendasikan Amores Perros, saya memahami yang dimaksudkannya sebagai Alfonso Cuaron adalah Alejandro González Iñárritu, sutradara Amores Perros, 21 Grams, dan Babel. Nia suka musik latar pertunjukan tari terakhir dan setting penjara yang modern tetapi sepi. Selvi tertawa terbahak-bahak ketika adegan wawancara televisi. Aji bilang teks nama yang muncul pada beberapa adegan mengingatkannya pada film Amores Perros, menurutnya teks tersebut berfungsi sebagai pembagi cerita. Nia tidak sependapat, karena sebetulnya teks tersebut tidak begitu berpengaruh banyak. Nia berteori bahwa kemunculan teks itu lebih menandakan hubungan chemistry di antara para tokoh. Hal yang Erick tangkap dari film ini, ada batas yang tipis antara mencintai dan terobsesi. Bila mencintai kita tahu mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, bila terobsesi batas antara boleh dan tidak boleh menjadi kabur atau bahkan tidak ada. Bagusnya adalah Mr. Almodovar membuat kita bersimpati pada karakter yang terobsesi itu.
Di penghujung pembicaraan, saat teman-teman sedang memakai sepatu, Nia bertanya, “Eh kita perlu difoto, nggak?”
“Terlambat,” jawab Erick.
“Tadi mau gua foto pas lagi nonton, tapi takut blitz-nya mengganggu,” sahut Nia. Namun demi kepentingan blog saya pun tetap mengambil foto aneh di atas. Melihat foto yang tidak memuaskan itu, Erick pun mengambil foto aneh di bawah.
Andika Budiman
Andika adalah peserta setia di Reading Lights Writer’s Circle. Mahasiswa HI Unpar ini suka sekali dengan kegiatan menulis, terlepas dari bentuknya, apakah cerpen, essay ataupun artikel. Dengan selera musik dan karya yang cukup non-mainstream, kritik serta saran-sarannya sangat berguna dalam diskusi setiap minggu. Saat ini ia sedang melamar kerja di Rumah Buku..

Sabtu ini lain dengan Sabtu-Sabtu sebelumnya. Untuk pertama kalinya Reading Lights Writers’ Circle melakukan outing. Jika biasanya pertemuan mingguan diadakan di toko buku Reading Lights, maka kali ini the circle goes to Jendela Ide. Jendela Ide adalah sebuah tempat yang menyediakan ruang untuk anak-anak yang ingin mengeksplorasi berbagai bentuk seni. Mulai dari seni musik hingga seni murni.
Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung sejak pukul dua ini dimulai setelah kedatangan Erick, Andika, Wahyu, Fadil, Ina, Aji, dan Niken sebagai salah satu fasilitator Jendela Ide. Setelah kami berkumpul—termasuk saya yang datang lebih awal, Erick kemudian menyampaikan petunjuk tentang apa-apa saja yang mesti dilakukan. Walaupun sempat terinterupsi oleh kedatangan Devi yang terlambat, pada intinya semua memahami bahwa tugas kali ini adalah:
Mengamati semua lukisan;
Memilih sebuah lukisan favorit sebagai bahan interpretasi.
Setelah mendengarkan historical background lukisan anak-anak dari Niken, pencarian lukisan terfavorit pun kami lakukan. Kami mendapatkan waktu tiga puluh menit untuk mengamati semua lukisan. Kami lantas mengelilingi markas persegi Jendela Ide yang berjendela banyak, yang dipenuhi lukisan, foto kegiatan, dan hasil karya anak-anak Jendela Ide lainnya.
Yang membuat saya sedikit takjub adalah ternyata hasil interpretasi kami tak jauh beda dari kesukaan dan ciri khas menulis masing-masing. Seperti saya yang suka warna pink dan tulisan-tulisan morbid. Favorit saya adalah lukisan pohon di mana warna pink mendominasi. Lukisan ini saya interpretasikan sebagai lukisan yang berhubungan dengan kematian. Saya pikir, kesendirian pohon dalam lukisan ini merepresentasikan kondisi sepi di alam kematian. Sementara itu daun-daun yang berguguran saya hubungkan dengan pendapat seorang teman yang sudah berstatus almarhum: “Hitunglah setiap helai daun yang gugur, karena sebanyak itu juga jumlah orang yang meninggal ketika itu.”
Lain saya lain Fadil. Ia mencoba menganalisis karakter orang yang melukis lukisan favoritnya. Ia memilih lukisan karya George, anak berumur 3 tahun yang menggambar badak dengan warna cerah. Menurut Fadil, selintas lukisan tersebut mirip peta kenegaraan. Fadil berpendapat garis-garis batas yang digambarkan kaku oleh pelukis mencerminkan keterikatan pelukis pada aturan-aturan yang ada.
Aji yang dikenal tertarik masalah perpolitikan malah menghubungkan lukisan favoritnya dengan kondisi politik di Indonesia. Lukisan Spider-Man karya Jihan membuat Aji berpikir, “Memang seberapa besar signifikansi super hero di negeri yang sudah sebegini kacau?” Terlepas dari penjelasan tentang mengapa lukisan Jihan lumayan mendekati aslinya, komentar Aji mengenai bagaimana lukisan Spider-Man ini mengingatkannya pada keterpurukan kondisi Indonesia membuat saya ingin tertawa.
Sementara itu sebuah lukisan tentang hutan menjadi pilihan Ina. Dalam lukisan itu terdapat pepohonan yang mengapit seekor binatang yang bagi Ina merupakan kucing hutan, tetapi kami anggap lebih menyerupai gajah. Selain itu, saya rasa interpretasi Ina agak normal dibandingkan yang lain. Ia menginterpretasikan warna langit yang abu-abu sebagai tanda kecerahan malam, sementara warna biru disekitarnya adalah indikator melimpahnya oksigen di hutan tersebut. Ina menambahkan, ia memilih lukisan tersebut karena keunikannya.
Devi yang ceria dengan penuh semangat memilih lukisan binatang peliharaan karya Alika. Saya curiga, jangan-jangan karena lukisan tersebut senada dengan warna bajunya saat itu: oranye. Namun Devi menjelaskan kesukaannya pada lukisan Alika dikarenakan lukisan tersebut penuh tawa dan kebahagiaan. Binatang peliharaan di lukisan Alika tampak lembut dan tersenyum hangat. Devi menginterpretasikan lukisan tersebut sebagai perwujudan sifat positif yang dimiliki oleh Alika, sang pelukis. Lukisan Alika kemudian membuat Devi termotivasi untuk tetap ceria, sangat sesuai dengan karakter Devi yang selalu optimis.
Wahyu memilih lukisan orang yang menurutnya agak mirip dengannya. Ia mencoba menebak-nebak apa yang sedang dilakukan orang di dalam lukisan tersebut. Mungkin orang tersebut sedang menyapa, atau sedang berdeklamasi, atau malah sedang mengucapkan salam perpisahan. Menurut Wahyu, bisa jadi orang tersebut merupakan gambar ayah pelukis yang ingin memeluknya. Namun Wahyu lantas menghentikan interpretasinya dan menyerahkan semuanya kepada si pelukis, sebagai satu-satunya orang yang mengetahui arti dari lukisan itu.
Saya sempat terheran ketika Andika yang pemikirannya biasa agak kritis malah merasa teridentifikasi dengan lukisan Tiara. Tiara membuat sebuah lukisan yang Andika pikir agak klise dan pretensius dengan warna awan yang biru, rumput yang hijau, dan kayu yang cokelat. Namun kemudian lukisan tersebut mengingatkan Andika akan masa lalunya, ketika dirinya juga merasa pretensius. Andika bercerita bahwa ketika kecil ia juga takut melakukan sesuatu yang tidak umum. Andika mengagumi keberanian Tiara yang mewarnai wajah dengan warna yang tidak umum: biru dan jari dengan warna hijau. Tiara menginspirasi Andika untuk berani dalam melakukan sesuatu.
Terakhir Erick. Setelah curhat tentang kebingungannya memilih lukisan yang diperkirakannya disebabkan oleh sifat agak plinplan-nya, akhirnya ia memilih lukisan planet monster karya Izzan, Hafizh, dan Thafah. Lukisan tersebut jadi favorit Erick karena menurutnya pelukis bisa mengubah pandangan orang yang beranggapan bahwa monster adalah mahluk yang menakutkan. Hal ini disebabkan karena pelukis menggambarkan monster dengan wajah yang tidak seram. Sepintas saya melihat kemiripan antara monster pada lukisan dan Erick, hehehe.
Saya merasa hari Sabtu ini menjadi Sabtu yang paling membahagiakan. Kami berhasil menyelesaikan permainan interpretasi lukisan di Jl. Taman Sari 73 Bandung. Sayang Anas datang terlambat sehingga tidak bisa merasakan serunya menginterpretasikan lukisan. Semoga Writers’ Circle sering-sering mengadakan pertemuannya di luar ruangan.
Myra Fathira
Myra adalah peserta regular di setiap pertemuan Reading Lights Writers’ Circle. Gadis misterius ini masih tercatat sebagai mahasiswa Sastra Inggris angkatan 2004 Universitas Padjadjaran sebagaimana tercatat juga sebagai groupies-nya Nine Ball. Jangan langsung menyapa Myra bila melihat ciri fisiknya pada orang yang Anda temui. Karena bisa jadi itu Mira, kembaran Myra. Lihat dulu pakaiannya. Anda boleh menyapa kalau gadis itu memakai baju pink. Myra selalu memakai baju pink. Satu-satunya kesempatan di mana saya melihat Myra berbaju hitam adalah sehari setelah tulisannya dikritik Rendra. Album foto Reading Lights Writers’ Circle Goes to Jendela Ide bisa dilihat di sini.
Hari ini, selain saya, Reading Lights Writer’s Circle dihadiri juga oleh Nia, Fadil, Myra, Andika, Selvi, Nila, Uli, Wahyu, Anas, serta seorang penulis full timer bernama N. Marewo.
Setelah mendengar cerita seorang teman di luar the circle tentang plot film thriller berjudul The Oxford Murders (tengkyu banget deh buat spoiler-nya!), saya memutuskan untuk menjadikan teknik membuat alibi sebagai latihan menulis kali ini. Caranya mudah saja, kok. Pertama, dalam waktu lima menit, buatlah sketsa adegan dimana sang pelaku tertangkap basah dalam melakukan tindakannya. Tentu saja tindakannya itu bisa berupa apapun: bisa mencontek, korupsi, selingkuh, ataupun menggergaji kaki teman. Setelah lima menit plus perpanjangan waktu sekitar lima menit lagi, semua peserta diminta berhenti menulis.
“Lalu?” tanya seorang peserta.
“Lalu kita semua mendapat tugas membela tokoh dalam tulisan tadi,” jawab saya. “Buatlah lima alibi atau alasan yang memungkinkan, sehingga ia tampak sebagai orang benar yang berada pada waktu dan tempat yang salah.”
Saya berpikir terlalu jauh, kurang lebih inilah tulisan yang saya buat:
Edwin mengetuk-ngetuk setir mobilnya. Waktu berlalu lambat. Jalan protokol terasa penuh dan panas. Tidak ada awan hari ini.
Sambil mengelap keringat, ia melirik ke belakang. Peledak berkapasitas dua ton itu sudah terpicu. Tinggal menunggu dua menit, lalu semuanya selesai.
Satu setengah menit sebelum meledak, Edwin tancap gas menuju daerah perkantoran.
Tiba-tiba seorang ibu tergelincir dari dalam metromini, membuat Edwin kaget, banting setir dan menabrak pohon.
Ia terbangun dengan kerumunan orang disekitarnya, dan bom yang tidak jadi meledak itu mendarat di sisinya.
Dan argumen yang saya gunakan untuk membenarkan tindakan Edwin adalah:
Edwin hanya disuruh mengantar barang ke daerah perkantoran, ia tidak tahu jika bungkusan itu adalah peledak. Kerahasiaan adalah nomor satu bagi jasa pengiriman barang, dan Edwin sudah sering ditegur karena mengintip kiriman serta ngebut di jalanan. Rupanya ia sedang naas kali ini.
Edwin ditawari peran untuk film lokal, dan ia berusaha mendalami karakternya dengan menyiapkan peledak palsu dan beraksi di tempat ramai.
Edwin adalah anggota BIN, ia kesal dengan kondisi kepolisian yang rata-rata anggotanya adalah lulusan SMA, serta tim forensik yang berasal dari Kedokteran UI, bukan dari satuan POLRI. Terinspirasi episode CSI beberapa season yang lalu, ia nekat untuk memasuki alam pikiran pelaku peledakan, dengan pura-pura berperan menjadi pelaku.
Edwin memiliki kesulitan finansial dalam menghidupi keluarganya, jadi saat ada tawaran untuk melakukan suatu pekerjaan dengan syarat patuh total dan dibayar lima puluh persen di muka, bukan hal yang mustahil jika ia menyanggupi tanpa pikir panjang.
Edwin itu memang bodoh dan ceroboh, ia mencuri mobil boks yang salah. Tapi semua pencuri mobil pasti akan melakukan hal yang sama jika melihat mobil dengan jendela terbuka dan kunci berikut STNK menempel pada tempatnya. Sepertinya ia sempat berpikir di dalam boks itu ada barang lain yang cukup berharga.
Beberapa teman berpendapat, tulisan di atas lebih condong ke arah komedi walaupun alasannya sudah cukup logis. Mungkin tindakan tokoh utama terlalu kentara sehingga sulit membuat alasan untuk memutarbalikkan fakta. Mungkin juga ini disebabkan karena tulisan saya karakternya memang cenderung komedi, selain fantasi dan sedikit sadis tentunya.
Sementara itu, Fadil menulis tentang seseorang yang ketahuan memasukkan CD ke dalam kantung jaket, lalu membela diri dengan menyatakan ia ingin melihat-lihat CD lain sehingga membutuhkan tangan yang bebas bergerak. Karakter itu akhirnya menuju kasir dan membayar, namun setelah jauh, ia mengeluarkan satu lagi CD dari dalam kantungnya. Menurut Fadil, kejadian ini bisa saja terjadi di sebuah toko musik orisinil di jalan Dalem Kaum, yang tidak memiliki sistem keamanan seperti Aquarius atau Disc Tarra. Pembaca tidak saya sarankan mempraktekkan hal ini. Adalah tindakan yang sangat-sangat bodoh bila kita mempertaruhkan nyawa dengan mencuri piringan musik di tempat ramai, apalagi jika bajakannya tersedia beberapa meter dari tempat itu!
Wahyu menulis tentang seorang kakak yang mencuri apel milik adiknya, dan alasan ia melakukannya adalah “Kakak tidak sengaja menggigit apel itu”. Untuk seorang adik yang masih kecil dan agak mudah dialihkan perhatiannya, saya pikir argumen itu cukup berfungsi.
Anas, di lain pihak, membuat cerita mengenai perselingkuhan dengan dalih, “Jika cinta sudah berbicara, apa daya?” Sebuah argumen yang indah, tetapi kurang efektif.
“Masa sih?” tanya peserta lain sangsi.
“Tidak percaya? Cobalah selingkuh terang-terangan. Ketika ditanya mengapa, lantas katakanlah, ‘Yah apa daya? Cinta sudah berbicara, Sayang’,” jelas saya.
Sementara Nila bercerita tentang sandal yang hilang dan Selvi menulis mengenai kepergok saat mencontek, Myra bercerita mengenai keluarga yang saling menyalahkan mengenai siapa yang makan daging mentah di kulkas. Ia membuat karakternya menjadi setan yang suka makan daging mentah, walaupun tidak diceritakan pada tulisan. Ide yang menarik, dan menimbulkan pertanyaan: perlukah membuat karakternya sebagai monster, atau tetap manusia, tapi gemar makan daging mentah?
Andika dan Nia sama-sama bertutur mengenai pengalaman pribadi tokoh yang tertangkap basah saat melakukan masturbasi. Bedanya di mana? Tulisan Andika bercerita mengenai pelaku yang, saat kepergok oleh ibunya, setting langsung berubah menjadi pengadilan dan muncul tokoh pengacara serta jaksa, yang mempermasalahkan apakah bermasturbasi merupakan kesalahan atau bukan, apalagi si pelaku tidak mencapai klimaks. Pada tulisan Nia, pokok tulisan ada pada lubang tempat si tokoh mengintip, lalu melakukan masturbasi. Tema sama dengan twist yang berbeda. Perlu dicoba untuk pertemuan mingguan selanjutnya.
Setelah selesai, kami meminta Mas Marewo sedikit berbagi mengenai karyanya yang berjudul Filmbuehne Am Steinplatz terbitan Lentera. Buku ini adalah novel pertamanya yang diterbitkan. Sejak saat itu, penulis yang mengaku telah menulis sejak berumur sembilan belas tahun ini telah merambah ke esei, naskah teater, dan novel-novel yang lainnya. Novel pertamanya ini mengangkat pengalamannya tinggal di Jerman dan kebanyakan ber-setting di Filmbuehne Am Steinplatzm, semacam bioskop mini tempat di mana banyak orang dari ras dan negara lain berkumpul dan bersinggungan. Secara tidak sadar, semua terjebak dalam lingkaran saling mengolok-olok perbedaan masing-masing. Mereka yang makan lalab tertawa melihat mereka yang makan keju, sementara mereka yang makan keju menertawakan mereka yang makan daun (lalab). Padahal tak seorangpun yang meminta untuk dilahirkan di Eropa atau di Asia. Resensi lengkap bisa dilihat di sini.
Terakhir, Wahyu membagikan fotokopian tulisan tentang pengalaman menulis, yang cukup memicu semangat. Tengkyu berat, Bro! Oh iya tambahan lagi, minggu depan kami berencana untuk meresensi lukisan di Jendela Ide. Acaranya dimulai jam dua siang. Apabila tidak tahu tempatnya, anda bisa berkumpul di Reading Lights pada jam setengah dua. Semoga lancar.***
Erick S.
Erick adalah fasilitator kegiatan Reading Lights Writer’s Circle in Indonesian yang berlangsung setiap Sabtu jam empat sore. Sehari-hari ia aktif di gereja, juga mengajar sebagai asisten dosen di Itenas, dan yang terpenting mengusahakan agar proyek komiknya bisa segera terbit. Ini bukan promosi karena ia sudah tidak available. Untuk melihat ulasan pertemuan Writer’s Circle minggu-minggu sebelumnya, silakan klik ke sini.
Semua ini bermula ketika aku melihatnya di kantin kampus. Perempuan yang memakai pakaian hitam putih itu menarik perhatianku. Baju putih yang transparan sehingga aku dapat melihat siluet bra hitam itu mempertontonkan lekuk tubuhnya, menggerakkan nafsu hewaniahku. Hujan deras dan cuaca yang dingin mendorongku untuk berpikiran mesum.
Kemudian aku mencium bibirnya. Kurasakan asin pada lidahku.
Nia
Terdampar Awalnya gelap. Gelap sekali. Namun sayup-sayup, telingaku menangkap suara desiran riak air yang seakan-akan naik dan seakan-akan turun. Seringkali suara itu naik meninggi, lalu samar-samar menghilang, lalu riak itu bertambah keras, lalu menghilang lagi, lalu muncul lagi tiba-tiba, lalu menghilang lagi … Tubuhku tak bisa bergerak, seakan sudah terlepas saja dari kepalaku, pikiranku. Lalu pikiran itu datang seperti hantu. Matikah aku … Air yang dingin tiba-tiba menyentuh jari kakiku. Rasanya lembut seperti belaian sayang ibu. Seketika itu inderaku bangkit. Jari jariku menggenggam butir-butir halus. Pasir. Hanya itu yang bisa kusadari. Dimana aku, itulah pikiran yang terbersit pertama kali namun itu bukan masalah. Yang penting aku tahu, bahwa aku hidup. Sedikit demi sedikit aku mulai menyadari, butir-butir kecil yang menempel di sekujur tubuh memberi rasa dingin yang menyentuh kulit. Kesadaran mulai terbangun pada tubuhku yang sedang tergeletak seperti seseorang yang baru saja dilanda mimpi buruk. Kegelapan dimataku mulai sima. Namun itu tak memberikanku gambaran yang berbeda. Sekarang ini seakan ribuan, bahkan jutaan titik-titik terang kecil bertebaran diatas permukaan gelap. Bintangkah? Ya, mungkin bintang. Berarti aku ada di alam bebas. Aku telah terdampar di sebuah pantai entah dimana. Saat ribuan bintang menghilang dan saat hitamnya langit mulai memucat. Aku mulai bisa merasakan anggota tubuhku. Kaku dan sakit disekujur tubuh. Tak bisa bergerak atau berdiri. Hanya pikiranku yang bisa bekerja saat itu. Dan lihat, awan-awan putih jingga mulai menampakkan diri. Entah mengapa wamajingga seakan berkesan buatku. Aku melihatnya entah dimana, setidaknya sebelum ini, aku yakin. Entah berapa lama aku melamun. Awan sekarang sudah memutih, matahari mulai meninggi, membagikan rasa hangatnya pada bumi. Namun jingga tak pemah lepas dari pikiranku. Jingga … Aku ingat sekarang. Bukankah wama jingga pula pesawat yang terakhir aku naiki. Pesawat ! Terakhir, aku memang menaiki sebuah pesawat. Ingin pergi ke luar pulau meninggalkan semua penat yang ada di rumahku. Ayah ibuku yang begitu ingin turut campur pada kehidupanku. Pekerjaan yang begitu membosankan. Seluruh hariku seakan terpatok pada satu hari yang diulangi sepanjang hidup. Seperti satu bagian file yang dicopy dan dipaste terus menerus. Belum lagi omelan panjang kakakku yang nyerocos setiap aku pulang kerja. Tak ada masalah penting. Hanya mengeluh. Mengeluh sepanjang hari. Lalu aku bosan. Bosan dengan semua orang yang ada disini. Mengapa mereka semua harus memaksaku melakukan hal yang sesuai dengan yang mereka mau. Mengapa mereka tak mau setidaknya mengurus diri mereka sendiri. Aku tak habis pikir soal itu. Aku merasa telah banyak bersabar sebetulnya. Namun saat itu kesabaranku habis. Ayah ibu berteriak-teriak di depanku karena nilai kuliahku jeblok. Gelegar emosi mereka umbar sehingga aku seakan mendengar mereka berteriak langsung ke dalam telingaku. Padahal kami berhadap-hadapan, terpisah hanya oleh meja makan. Mereka tak sadar, bahwa aku tak bisa belajar bila mereka terus menghujaniku dengan omelan mereka. Yang kuhafal bukankah materi, melainkan hanya ungkapan-ungkapan kasar yang kudengar dari mereka. Saat itu kesadaranku habis dan entah mengapa aku langsung memesan tiket pesawat. Pergi dari sini. Pergi dari tempat terkutuk ini. Aku tak tahan. Telingaku aku tekan keras-keras sambil ngeloyor pergi keluar rumah. Aku menaiki sebuah pesawat. Ingin pergi jauh dari dunia tempatku berpijak dimana pijakan kaki hanyalah duri-duri tajam. Aku mencari sebuah tanah dimana aku bisa berpijak. Aku masih ingat suara pramugari manis yang menawarkan segelas coca ¬cola padaku. Seorang ibu tua yang duduk di sampingku, yang sambil mendengar i-pod, tertidur dan mendengkur pula. Sepertinya ia kecapekan. Pemandangan-pemandangan laut tanpa batas dad balik jendela membuat pikiranku tenang. Sampai ada pengumuman bahwa pesawat ini akan melalui cuaca buruk. Lalu aku. . . Aku lupa … Aku tak ingat bagian itu. Mungkin begitu buruk, sampai pikiranku sendiri menolaknya. Aku tak man ambil pusing. Yang penting aku sudah bebas. Bebas dari semua gertakan, amarah, cercaan. Di atas pasir yang menghangat, diringi nyanyian camar yang berseliweran di atas langit tak bertuan aku tertawa keras sekali. Sampai rasa puas memenuhi seisi hati. Akhimya aku sendiri. Jauh dari semua orang. Jauh dari semua mahluk yang hanya memberi penat, sakit, dan kebosanan. Jauh dari manusia. Manusia apapun. Aku mulai tersenyum sedikit. Lebih puas lagi saat aku tahu aku sendirian di pulau ini. Beberapa sisa-sisa bangkai kapal berserakan di tepi pantai. Aku mulai bisa berjalan, walau agak tertatih. Tubuhku sakit semua, seakan telah melalui goncangan sangat keras. Siang itu aku berjalan dengan riang, kesana-kemari sambil mengumpulkan barang-barang yang tercecer dan masih dalam kondisi bagus menurutku. Seperti balita yang baru saja mendapat mainan, aku merasa gembira, walau kadang serpihan-serpihan tajam kerap kali melukai kakiku yang melompat-lompat kegirangan. Mengelilingi kumpulan pepohonan yang dikitari oleh pasir. Pasri yang dikitari oleh laut. Laut yang dikitari oleh . . . Sepi. Kata itu langsung terlintas dalam pikiran, membuatku terhenyak. Aku mulai menyadari kekosongan yang perlahan namun pasti menyedot semua rasa gembira dari jiwaku. Tak ada suara tawa canda teman-¬temanku. Tak ada suara pembawa berita televisi. Tak ada suara kendaraan yang biasa terdengar dari depan rumahku. Tak ada suara apapun selain riak ombak yang naik turun dan gesekan dari daun pohon kelapa yang membisik. Aku terduduk di atas tumpukan pasir hangat di hadapan mentari senja yang bersiap pulang. Aku tersenyum sesaat. Aku sendirian. Bebas. Tapi mengapa kebebasanku serasa begitu . . . Sepi.. . Di depan matahari yang beranjak tenggelam, senyumku perlahan bembah menjadi kepahitan. Setetes air mata jatuh di atas permukaan pasir yang halus. Entah mengapa senang itu kini menjadi sesal. "Aku rindu ayah ibu . . .
Yohan
Aku tahu kamu tidak disana. Saat kita semua sedang berkumpul, membicarakan hal2 menyenangkan yang membuat rileks syaraf-syaraf otak. Tertawa, tanpa ada beban yang ikut bergabung, tapi tidak dengan kamu. Kadang kamu memang ikut tertawa, seolah-olah mengerti apa yang sedang kamu tertawakan. Tapi aku tahu, kamu tidak disana, tawamu hanya formalitas saja.
Kamu tidak pernah ada disana, sesuatu menyedotmu kesana, ke tempat dimana kamu habiskan tiap jam dan detikmu. Tapi itu diluar kuasamu, kalau saja kamu bisa kamu ingin pergi dari situ. Tapi kamu terjebak di tempat itu. Ya, di alam pikiranmu, tempat dimana Ia berada.
Itu membuatmu tidak fokus. Kadang kamu tertawa, mengangguk, atau menggelengkan kepala seolah-olah kamu menyimak lawan bicaramu, tapi kamu sebenarnya tidak ada disana, kamu bahkan tidak tahu apa yang sedang dibicarakan karena terkadang tanggapanmu terhadap apa yang sedang dibicarakan sama sekali tidak ber- korelasi.
Terkadang kamu membagi alam pikiranmu saat kamu resah. Saat kamu merasa terlalu penat untuk kamu simpan sendiri. Kamu akan membicarakannya seolah-olah Ia adalah topik penting yang wajib didengarkan. Kamu bahkan tidak peduli kalupun tidak ada yang mendengarkan atau bahkan peduli, karena sebenarnya kamu hanya butuh untuk menumpahkan perasaanmu. Kamu sebenarnya menceritakan untuk diri kamu sendiri. Itu kamu lakukan agar kamu terus ingat memori-memori tentangnya. Kamu ulang terus apa yang otakmu rekam tentangnya agar Ia tidak punah dari pikiranmu. Bahkan bagimu sebuah pesan di inbox handphone-mu yang berbunyi, ”ada apa? Lagi nonton, what’s up anyway?”, bisa membuatmu riang seharian, walaupun tidak berarti apa-apa, tapi kamu cukup tenang mengetahui message-mu dibalas. Aku bertaruh pasti message itu akan selalu ada di inbox-mu menyingkirkan message-message lain yang memenuhi inbox-mu.
Suatu saat aku melihatmu begitu fokus, suatu hal yang jarang sekali kamu lakukan. Kamu tidak lagi ’tersedot’ ke alam itu. Aku tahu karena Ia ada didepan-mu. Kali ini pikiranmu terpusat padanya, seperti alam semesta yang terpusat pada matahari. Sudah kuduga, Ia alasan ketidakfokusanmu. Ia matahari-mu, ketidakfokusanmu berhenti padanya! Kali ini senyuman, anggukan, dan tanggapan-tanggapanmu nyata, bukan hanya sekedar formalitas. Ia cukup untuk-mu, mewakili semua kesenangan-kesenangan-mu.
Sayang Ia terlalu sempurna untuk menjadi nyata, dan itu membuatmu sadar utuk hanya berhenti di kata ’mengagumi’. Kamu tahu diri, walaupun kamu terlalu silau pada cahaya yang Ia pancarkan sampai-sampai cahaya dirimu tertutup olehnya. Bukan kamu yang tidak berharga, hanya saja kamu memandangnya terlalu tinggi. Kamu tidak berani memilikinya, tapi kamu juga terlalu takut untuk melepasnya. Ia hartamu, kehilanganya sama saja ’jatuh miskin’ bagimu. Itulah yang membuatmu diperbudak perasaan olehnya. Aku tidak bisa menyalahkannya, kamu yang salah.
”’Ngga mungkin-lah saya punya perasaan sama dia. Jauh banget dari tipe saya..”, kata-kata ini berhasil merontokkan helai demi helai memorimu tentang ke- maha- an- nya. Tapi kamu bukan hanya ’katarak’, kamu bahkan ’buta permanen’. Kamu terlalu takut sengsara bila kamu hilangkan Ia dari sel-sel otakmu. Lagipula Ia sudah tertanam paten di otakmu. Terlalu sulit untuk mencabutnya. Aku akan malah jahat bila tidak memberitahukan ini padamu. Kupikir lebih baik kamu amputasi Ia dari bagian otakmu. Memang sakit, tapi sudah hanya sekali, tidak akan berkepanjangan. Tapi ternyata aku salah, lukamu tak kunjung sembuh. ’Amputasi’ tidak berhasil untukmu. Lukamu malah meradang. Sudah kubilang agar jangan terlalu mengagungkannya. Kuat tidaknya perasaanmu padanya bergantung pada bagaimana kamu mengembangkannya. Kalau saja kamu bisa membuat perasaanmu ’normal’ padanya, atau paling tidak kamu mengontrolnya agar tidak makin membesar pasti hal ini tidak akan terjadi.
Lihat Ia sama sekali tidak merasa bersalah pada kematianmu. Kamu telah korbankan nyawamu dengan sia-sia. Kamu pasti jengkel mendengar perkataanya saat Ia membuka kain yang menutupi wajahmu. ”Kasian… pikirannya terlalu pendek”. Ia tidak merasakan beban yang kamu tanggung karenanya. Mungkin bahkan Ia tidak tahu Ia-lah penyebab kamu nekad melakukan perbuatan yang dikutuk Tuhan. Mungkin kamu tidak menemukan surga, bahkan neraka-pun menolakmu. Tapi setidaknya kamu bisa bernapas lega, pikiranmu kini hampa, tidak terisi memori tentangnya. Semoga itu membuatmu bahagia.
Myra Fathira
Entah kapan aku sadar aku telah menggunakannya. Aku tahu bahwa mataku mulai bermasalah, beberapa bulan, belakangan ini. Aku lupa persisnya kapan. Mataku tidak mempunyai penyakit, seperti katarak atau mengeluarkan air seperti yang dialami seorang teman karena sering main game War Craft sampai larut malam, disaat manusia lain berdamai dan ketakutan dengan mimpi-mimpi mereka.
Tidak, mataku keadaanya seperti mata semua orang. Ia dapat aku gunakan untuk membaca, melihat keindahan alam, bahkan ia kadang awas kalau aku berjalan dalam lorong gelap di sudut-sudut kota ini, kalau jiwaku kalut dan kepalaku dibetot, karena bertumpuknya pertanyaan dan permasalahan- yang sebenarnya ingin aku hindari. Tapi aku tak bisa, karena masalah hidup, akan selalu mengitarimu, dimanapun kamu berada.
Hari-hari belakangan ini, aku merasakan mataku bermasalah. Yang bikin aku jengkel, ia tidak saja sakit pada dirinya sendiri, tetapi ia juga menyakiti organ lain. Jika ia sudah liar, maka aku tidak enak makan, tidak bisa konsentrasi dengan lawan bicaraku, dan yang paling merisaukan adalah jiwaku tidak bisa berdiam dengan damai.
Bagi orang lain, mataku tidaklah biasa. Termasuk seorang perempuan kaya, yang keluar di malam sabtu. Ia mengatakan padaku, aku menyukaimu karena matamu itu begitu indah. Te1ah banyak mata yang telah aku lihat dan aku tatap. Tapi matamu berbeda. Aku sukar untuk menjelaskannya, karena ini masalah rasa. Karena alasan matalah, aku berpisah dengannya. Saat terakhir kali aku memandangnya, di warung tenda tengah malam, ia mengatakan kalau ia akan selalu mengingat bentuk mataku yang indah.
Setelah periatiwa itu aku sadar mataku selalu menebar pesona. Para wanita selalu datang dan mengatakan kalau mereka suka dengan mataku. 0, alasan apakah ini. Apakah taste zaman sudah berubah. Dan yang lebih gila, laki-laki selalu bilang, aku suka sama matamu, sayang kamu laki-laki.
***
Waktu yang paling aku tunggu, pada hari-hari belakangan ini adalah saat malam tiba. Saat mataku capek karena aktifitas melihatnya sepanjang hari. Ketika tidur, aku merasakan jiwaku sungguh tenang. Apalagi kalau mataku bertemu orang suci, apakah seorang sufi, santo, atau biksu tua. Pada saat itu, betapa aku sangat menyukai mataku. Ia menebar aroma kesejukan pada jiwaku yang letih.
Tapi itu hanya sebentar, tidak lebih dari sepertiga hari. Waktu bangun adalah saat yang tidak pernah aku lewatkan untuk memeriksa mataku. Oh, ia seperti ingin bicara padaku, bahwa pada saat inilah mata yang aku miliki menampakan bentuknya yang sempurna. Ia begitu cerah dengan pipi yang memerah. Aku tidak ingin melewati saat-saat pagi dimana aku berada, dengan sebuah cermin segi empat yang aku beli di pasar tradisional. Kaca yang aku bawa kemana-mana untuk memeriksa mataku.
Pada pukul tujuh pagi, aku bisa merasakan mataku berubah. Seperti bunga putri malu yang tersentuh ujung jari. Jika saat itu tiba, aku mulai bersedih dan meratap. Mataku akan mengatakan kalau
is itu bukan milikku lagi. Mats. itu mulai mengikuti keinginan alam. Memandang, melirik, terbelalak dan berkedip nakal.
Terlalu banyak yang seharusnya tidak dipandang. Terlalu banyak lirikan sampah. Tapi mataku tidak bisa membedakan, mana yang diinginkan oleh jiwaku. Mataku tidak pernah tahu keadaaan jiwaku. Ia tidak mau tahu kalau aku lagi senang. Dalam keadaan ini, okelah. Karena semua yang jelek menjadi indah. Seperti kisah penulis tua yang berjualan buku karangannya sendiri, katanya, jika mood lagi bagus, orang berak pun bisa mendatangkan inspirasi. Apakah ini yang disebut dengan relatifitas itu? Mataku tidak pernah memberikan jawabannya.
Tapi alangkah jahatnya mataku, kalau is melirik rok mini, disaat hatiku sedang panas. Ia seperti tidak merasa bahwa dirinya merupakan bagian yang utuh dengan diriku. Ia seperti manusia yang dinasehati berulang kali oleh sang nabi, namun kata suci itu tertahan di pintu daun telinga. Atau untain kata indah yang dibacakan oleh seorang kekasih, tapi ia malah melewati liang telinga. Dan keluar berhamburan tanpa bisa menyisakan makna.
Jika ia berulah, aku mulai cemas. Betapa tidak, pengalaman dengannya selama ini, membuatku sadar, kalau sekarang ia mau :nenjadi musuh. Kalau aku diberi pilihan, tidak memilki mata yang menggoda atau mendaki Himalaya sewaktu musim salju, maka aku tanpa pikir panjang, akan memilih mendaki Himalaya yang tinggi dan dingin itu, walau dengan merangkak sekalipun. Namun aku sadar, ini adalah sebuah pemberian. Kau tahu artinya pemberian? Ya, sesuatu yang diberi, tidak berhak untuk ditanyakan kembali. Toh, kita tidak melempar koin untuk mendapatkannya.
Mataku sungguh lihai. Is tahu kapan mengokang dan kapan menarik picu senapan. Is merayuku dan berusaha menarik hatiku dengan sesuatu yang sepele. Dan karena sepele aku tidak terlalu memperhatikannya. Saat berikutnya, is mulai memberi kenikmatan pada diriku karena ia telah menyampurkan dengan sedikit aroma hasrat. Mirip, semangkuk sup, yang air kaldunya sengaja dibuat tidak terlalu terasa oleh sang koki. Siwaku mulai berubah, karena is menginginkan kenikmatan lebih. Syaraf-syaraf mulai melemah dan berkonsentrasi pada satu titik. Pada saat ini, ia belum yakin kalau ia sudah menaklukan diriku. Maka ia sedikit menambah bumbu yang aku perlukan itu. Setelah itu, is menjadi raja, dan aku sebagai hambanya.
Akalku yang menjadi pengawal dan tentara pembebas, takluk oleh dua biji mata yang indah. Kalau kamu ingin menjadi seorang ahli strategi, belajarlah padanya. Is selalu tahu kapan harus diam dan kapan harus bergerak. Mataku seperti pemain layangan ulung, yang tahu kapan harus narik, kapan harus ulur. Karena ia tahu keinginan dan hembusan angin.
Suatu ketika, langkah kuda membawa tuannya dengan lemah gemulai. Ia ingin menceritakan bahwa kakinya telah is gunakan lebih pada hari ini. Di atas punggungnya, duduk para tentara yang duduk dengan gagah, sambil memegang gagang pedang mereka. Para tentara itu akan memasuki desa, tempat mereka merekah alam. Mereka ingin menceritakan pada istri mereka, bahwa suaminya baru saja menjadi pahlawan dan mengalahkan musuh yang paling ditakuti di seantero sahara.
Mereka juga ingin menceritakan pada anak mereka, kalau ayah mereka adalah seorang tentara perang. Mereka berharap, anak mereka
akan menceritakan kisah heroik ini pada anak cucu mereka suatu saat kelak.
Namun, sang Nabi yang bersama mereka bersuara lantang, kalau ads musuh dalam dirimu. Ia akan selalu bersamamu dan kalau kamu lengah, dia akan menerkanmu. Seperti kata seorang penyair Persia, Hafidz, musuhmu itu seperti Anjing lapar yang tertidur- dan anjing itu sangat banyak. Termasuk mataku ini.
Aku begitu membenci mataku. Tapi disaat yang sama aku bersyukur, karena telah dikarunia mata yang indah. Ia begitu menarik dengan bulu lentik yang mengitarinya. Kediriannya merupakan hasil karya Tuhan, yang tidak bisa ditiru oleh teknologi canggih. Sekalipun tahun tiga ribu sebelas.
Mengingat tindakannya padaku. Aku ingin memberikan pilihan pada diriku sendiri. Memandangnya tiap pagi dan menikmati keindahannya, atau menusuknya dengan dua batang lidi yang diraut ujungnya. Jika pilihan kedua aku lakukan, aku akan sangat menikmati, saat ketika lidi pipih tajam itu bersentuhan dengan kaca tipis yang menyelimuti bola mataku. Lidi itu masuk, bersentuhan dan merobek mataku. Aku mungkin menyesal, tapi dari pada membuat jiwaku mati, aku rela melakukannya. Tidak usah dipertentangkan dan berdalih dengan berbagai alasan rasional, karena ini adalah mataku sendiri.
Sungguh bahagia pemeluk agama atau aliran kebathinan, jika mereka melarang pemeluknya memakan biji mata. Semua biji mata. Apalagi kalau biji mata itu adalah biji mata binatang buas. Dalam mimpiku aku tahu kalau mataku mulai sukar dikendalikan, karena aku mulai suka memakan biji mata binatang buas yang menjadi hidangan yang paling dicari oleh penduduk kota ini.
Tapi apakah kamu tidak rugi, kalau matamu ditusuk. Kamu tidak bisa menikmati celetak-celetik embun pagi yang jatuh dari dedaunan. Menikmati titik-titik hujan yang berkecipak karena berbenturan dengan ubin, yang kamu sukai itu. Kamu juga tidak bisa duduk-duduk di atas pasir putih, di bawah nyiur yang melambai sambil melihat di kejauhan, ombak yang berlari dan menggulung.
Tidak! Aku harus katakan. Aku telah memikirkan masak-masak untuk menusuk mataku sendiri. jika itu lebih baik untukku, maka aku akan melakukannya. Tidak usah banyak omomng, karena ini miliku. Tidak ada pasal yang menjerat, karena pasal berhubungan dengan kesalahan pada orang lain. Kebencianku pada mataku melebihi rasa cinta dan sayangku padanya.
Aku bersumpah, kalau setelah pekerjaan merangkai kata ini sudah selesai. Aku akan pergi ke kamarku. Mengambil lidi yang aku raut kemarin sore. Lalu menusukannya di mataku.
Tidak usah bertanya, beranikah?
Anas, Bandung 9:23 24 November 2005
Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Janis Joseph