Reading Lights Writer’s Circle Diary

March 2, 2006

Lelaki Yang Tepat

Filed under: Emosi Dasar : Senang - Administrator INdeKS @ 10:22 am

         Kisah ini saya dengar dari cerita seorang teman yang baru saja selesai membaca sebuah novel lokal. Saya lupa judul novelnya, tapi yang jelas saya ingin berbagi cerita tersebut dengan siapapun yang membaca tulisan saya ini.

 

 

 


   Terkisah seorang wanita yang sangat sempurna, memiliki tubuh bak model, berwajah cantik, pintar, populer memilih seorang pria yang paling biasa di kampus untuk menjadi suaminya. Pria ini tidak menonjol di kampusnya, berwajah sangat biasa, memiliki nilai-nilai yang standar, bahkan bertubuh lebih pendek dari si wanita.
   Teman-temannya heran, dan berkali-kali berusaha menyadarkan sang wanita bahwa ia telah salah memilih. Bahwa dengan keadaannya yang sempurna, ia seharusnya bisa memilih seorang lelaki yang sempurna pula,  tampan dan sukses sebagai suaminya. Tapi si wanita tak bergeming, ia tetap menjadikan pria yang sangat biasa itu menjadi suaminya. Kepada semuanya ia mengatakan bahwa ia pasti akan bahagia.
   Setelah menikah si wanita hidup dalam kesederhanaan dengan gaji sang suami yang pas-pasan. Teman-temannya berkali-kali menyarankan ia agar bekerja untuk meningkatkan kesejahterannya. Dengan wajah yang sangat cantik dan otak yang cerdas, semua yakin bahwa si wanita dapat dengan mudah mendapatkan pekerjaan dan karir yang sukses. Tapi ia menolak, karena suaminya tak menginginkan istrinya bekerja, dan karena ia ingin mengabdi sepenuhnya kepada suaminya. Dan kepada semuanya ia mengatakan bahwa ia hidupnya bahagia.
   Si wanita tetap dengan setia mendampingi suaminya. Setiap mereka muncul di tempat-tempat umum, semua orang akan berkata, ” Sungguh beruntung si pria mendapatkan wanita secantik itu sebagai istrinya”. Semua keluarganya berkali-kali menyuruhnya bercerai dengan suaminya, agar ia tidak menyia-nyiakan hidupnya, sekali lagi sang wanita menolak. Ia mengatakan bahwa hidupnya sempurna dan bahagia.
   Suatu hari, ketika melahirkan anak yang ketiga, si wanita koma. Semua orang mengatakan kepada si suami agar ia pasrah akan nasib istrinya. Tapi sang suami tak mau menyerah ia selalu berdoa agar istrinya segera sadar. Agar bisa menemani istrinya setiap hari, sang suami melepaskan pekerjaannya. Kepada semua orang ia mengatakan bahwa ia ingin berada di samping istrinya saat istrinya tersadar nanti.
   Setelah tiga bulan si wanita tersadar dari komanya, tapi seluruh tubuhnya menjadi lumpuh, kedua tangan dan kakinya tak dapat di gerakkan. Yang bisa ia lakukan hanyalah terbaring di tempat tidur. 

   Walaupun begitu, sang suami sangat gembira dengan sadarnya sang istri. ”Doa saya telah terjawab. Istri tercinta saya kembali sadar, apalagi yang saya minta?”
   Sejak saat itu sang suami dengan telaten dan penuh kasih merawat istrinya. Setiap hari sebelum berangkat kerja, ia mendadani istrinya. Ia menaburi bedak di wajah istrinya yang tirus, mengolesi lipstik pada bibir istrinya, mengecup sang istri dan mengatakan bahwa hari itu sang istri terlihat sangat cantik. Hal itu ia lakukan setiap hari.
   Sekarang semua orang tidak lagi mengatakan, ” Sungguh beruntung si pria mendapatkan wanita secantik itu sebagai istrinya”. Sekarang semua orang  mengatakan, ”Sungguh beruntung si wanita, mendapatkan pria sebaik itu sebagai suaminya”. 

1 Comment »

The URI to TrackBack this entry is: http://indeks.blogsome.com/2006/03/02/lelaki-yang-tepat/trackback/

  1. nilainya sepuluh…. tapi ini review buku ya??!??! kalo bikinan sendiri seh definetly 100 ;) good story!!!

    Comment by weed — March 2, 2006 @ 7:04 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Janis Joseph