Reading Lights Writer’s Circle Diary

March 8, 2006

MAKAN MALAM

Filed under: Emosi Dasar : Senang - Administrator INdeKS @ 11:34 am

Kakiku melangkah gontai. Tubuhku semakin lemah tak berdaya. Angin malam mendekapku erat sambil mengerogoti seluruh tulang-tulangku. Yang kuinginkan saat ini hanyalah makanan, secuil, sesendok, segenggam, apapun itu.

 Semakin lama pandanganku menjadi semakin kabur, dan aku hanya bisa mengandalkan hidung untuk menuntunku kepada makanan.

Langkahku menjadi semakin berat. Langkah? Aku bahkan tidak lagi melangkah, aku menyeret kaki-kakiku. Tiba-tiba bau makanan menusuk masuk ke dalam hidungku. Kukumpulkan segenap kekuatan yang tersisa menuju sumbernya.

Dengan tertatih-tatih kucoba mempercepat langkah. Namun ternyata sudah ada yang mendahului aku. Mereka langsung menghabiskan semuanya tanpa sisa.

Kakiku tak kuat lagi menopang tubuhku. Aku terjatuh dan berbaring di atas aspal dingin yang tidak peduli dengan penderitaanku. Tembok-tembok berdiri dengan angkuh mengelilingiku, mereka bahkan tidak memperlihatkan wajahnya.

Lalu, akupun menoleh, tampak seorang pria berpakaian putih keluar dari salah satu pintu yang berbaris pada dinding-dinding tebal. Ia mengenakan sesuatu di kepala. Tampaknya itu adalah sebuah topi. Topi yang lucu karena bentuknya seperti roti tawar yang belum dipotong, tinggi menjulang berwarna putih. Sepertinya ia adalah seorang juru masak.

Pintu itu setengah terbuka. Ruangan di balik pintu itu adalah sebuah dapur. Cahaya lampu memenuhi seluruh ruangan dapur. Dari sini aku bisa melihat sepotong daging diatas piring. Asap mengepul dari daging itu. Aromanya sudah cukup membuatku kenyang. Sangat lezat.

Aku akan berlari secepat mungkin masuk ke dalam dapur, menuju meja dan menyantap habis daging di piring sebelum si juru masak kembali. Aku bisa merasakan kenikmatan dalam setiap kunyahan. Daging yang lembut dan empuk masuk ke dalam mulutku. Lidahku sungguh menikmati rasa manis yang menjejali rongga mulutku. Kenikmatan yang luar biasa merasuk melewati tenggorokan, mengalir terus hingga menempati ruang dalam perutku yang sudah 2 hari tak berpenghuni.

Tiba-tiba aku mendengar suara bising melintasi diriku. Seketika itu juga sekujur tubuhku terasa sakit sekaligus hangat. Kepalaku basah, demikian juga seluruh tubuhku. Namun aku tidak peduli, aku akan terus menikmati gigitan demi gigitan daging yang gurih ini sampai aku merasa puas.

Kumakan potongan terakhir. Kukunyah hingga habis tak bersisa. Kutarik napas panjang dan kuhembuskan perlahan dengan perasaan lega. Aku begitu bahagia malam ini. Kutersenyum mengakhiri malam. Si juru masak kembali. Ia berjalan menuju ke dapur. Tiba-tiba matanya tertuju pada benda hitam di atas aspal. Ternyata itu adalah seekor tikus yang mati tergilas dengan mata menatap ke dapur.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Janis Joseph