Hari Yang Sempurna.
Dina bangun ketika posisi matahari sudah agak tinggi. Ia melirik pada wekernya. Mati. Gagal sudah rencananya untuk berolahraga pagi.
Tak apa, masih ada hari lain.
Pelan-pelan Ia beranjak keluar kamar, berjingkrak menuju kamar mandi. Penuh. Kakaknya sedang konser di dalam. Kemungkinan besar baru selesai ketika hari mulai gelap.Tak apa, Dina masih bisa memandikan wajahnya di wastafel.
Dengan kantuk yang tidak kunjung hilang, ia pergi ke dapur. Matanya terasa berat. Dina membutuhkan secangkir kopi pahit, kental dan panas untuk memacu darahnya mengalir. Sial, si Bibi sedang mudik, anaknya menikah. Dina harus meracik kopi sendiri.Ia mengisi air pada panci, lalu menyalakan kompor. Tidak ada api. Sepertinya gas habis. Ia mencopot selang pada tabung lalu memasangkannya pada tabung cadangan. Ibu selalu membeli dua tabung, satu untuk dipakai, satu untuk saat-saat seperti ini. Kompor akhirnya menyala dan air pun mendidih.
Ia membuka lemari, mengambil cangkir dan membuka kaleng tembaga, tempat kopi. Kosong. Pasti pembantunya lupa membeli. Dina menggeleng-gelengkan kepala sambil membuka kulkas, mencari makanan. Kue-kue basah sudah habis dilahap kakaknya. Tinggal selada dan tomat yang sudah menghitam di bagian ujungnya.Ia memutuskan untuk kembali ke kamar, berganti pakaian. Matahari semakin tinggi, dan cuaca terasa semakin panas.
Ponselnya berbunyi mendadak.“Halo ?” ujarnya heran.
“Dina ? Kamu di mana ? Ujiannya bentar lagi niih !”“Rin, kamu bercanda ya ? Sekarang kan hari minggu ?”
“Dinaaaaa, kamu jangan begooo ! Kemaren sabtu kan kita begadang sampe minggu pagi ! Hayoo, kamu pasti kelupaan sehari kan ? Baru tidur malem banget ya?”"…oh…sial…”
Tanpa pikir panjang Ia menutup teleponnya, memakai seragam sekolahnya, mengambil tas, dan lari keluar rumah. Dina benar-benar lupa jika hari ini adalah hari pertama ujian EBTANAS.
Ia berlari menuju kendaraan angkutan terdekat, hanya untuk berhenti beberapa meter kemudian. Bannya kempes. Dina segera turun dan pindah ke angkutan lain yang sedang mengetem.Ketika sudah berjalan, ia mengambil telepon genggamnya dan menelepon Rina.
“Rin, gua masih boleh masuk, kan?”“Iya, tapi cepetan !”
“Oke oke !”“Hoeek !”
Mendadak seorang pemuda menunduk di depannya, hendak muntah. Seorang temannya segera menyetop angkutan itu dan membawanya keluar. Dina menyadari wajah orang tersebut yang hilang raut rasa mualnya ketika turun“Orang yang aneh…” pikirnya.
Di sekolah, gerbang sudah ditutup, Ia terpaksa memanjat, dan berhasil masuk, walaupun harus terjatuh dari atas gerbang. Lututnya lecet dan pakaiannya agak kotor. Bel berbunyi membuatnya langsung lupa akan rasa sakit dan segera berlari ke kelas. Ia bersyukur tiba sangat tepat waktu.Di dalam kelas, Dina mencari ponselnya untuk dimatikan, tetapi ia tidak menemukan benda itu. Ia mencari di sakunya dan membuka tasnya, nihil.
Dengan lemas ia menyadari bahwa orang yang hendak muntah tadi hanyalah tipu daya, agar temannya bisa mengambil Nokia 7650 miliknya. Dina sudah sering mendengar hal serupa tapi tidak pernah menggubris. Ia menaruh tas dan berjalan ke meja ujian dengan gontai.Bel kedua berbunyi. Pengawas membagikan soal, lalu mengumumkan kepada para peserta agar menaruh kartu ujian di atas meja masing-masing. Dina terkejut, ia berlari ke tempat tasnya, membalikkan dan menumpahkan seluruh isinya, lipstik, lipgloss, deodoran, dan pinsil 2B.
“AAAAAAAAAAAAAAARGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHH”Dina kontan mencabuti rambutnya. Kartu ujian itu tertinggal di meja belajar.
