Reading Lights Writer’s Circle Diary

March 15, 2006

Rasa Marah

Filed under: Emosi dasar : Marah - Administrator INdeKS @ 12:41 pm

Oleh: Niaw Miaw

 

Rasa Marah
 
Pernahkah kamu ingin menyatukan badan seseorang dengan tanah melalui hempasan yang mematikan? Mendorongnya dengan pasti melalui ketinggian beribu kaki ke dinginnya tanah kamu hiraukan. Perempuan itu terjatuh. Bebas. Tidak terkendali. Bahkan ketika kamu mengurungkan niat, ia sudah tidak dapat kamu raih dan ia tidak mempunyai kesempatan lagi untuk berpegangan.
Perempuan itu terjun bebas siap menghantam bumi. Ia merasakan panas yang menjalar pada seluruh tubuh. Ingatlah pada seluruh pembuluh darahnya yang pecah dan mengalir melalui mata, hidung, telinga dan mulut. Tulang-tulang kuat yang menopang tubuhnya patah atau remuk, kamu tidak peduli.
Perempuan tidak mati. Malaikat maut tidak mau datang. Ia merasakan sakit yang berkepanjangan. Kamu tidak menyesal karena kamu begitu ingin melihatnya menderita. Atau ternyata perempuan sudah mati tetapi kamu tidak mengetahuinya? Tidakkah kamu lihat hembusan nafas terakhir yang berupa sekumpulan asap yang keluar dari mulutnya? Atau ketika ia tidak merasakan degup jantungnya lagi?
Atau kamu ingin mencoba cara baru dengan menenggelamkannya sampai laut terdalam dengan jangkar yang diikatkan di kakinya? Kamu membawanya ke tengah Hindia dan melemparkannya ke dalam. Ia ketakutan karena disana begitu gelap dan kosong. Ia berontak dan mencoba berenang tetapi semakin tersedot kedalamnya. Ia berteriak tetapi itu adalah suatu kesalahan karena nafas terakhirnya terbang bersama gelembung terakhir.
Perempuan itu butuh udara. Ia panik. Tetapi akhirnya ia lemas. Pasrah. Menyadari bahwa ia tidak bisa menuliskan kata-kata terakhir berbentuk wasiat pada anak yang ditinggalkannya. Perempuan itu menutup mata. Detak jantungnya melemah. Pada saat itu pemburu laut melengkapi kematiannya dengan dramatis. Hiu besar itu mencabik-cabiknya dan memisahkan setiap bagian dari tubuhnya. Kini perempuan itu mati dengan sensasi nyeri dan sakit.
Kamu hanya tertawa melihat akhir dari kehidupan perempuan itu. Begitu dramatis dan tragis. Kamu puas dan lepas. Ada dendam yang telah dilancarkan. Bukankah itu adalah hal yang pantas ia dapatkan? Ia telah mengambil laki-laki yang kamu cintai. Ia mengambilnya tanpa memikirkan perasaanmu dan tidak meninggalkan belas kasih sama sekali. Perempuan yang mempunyai harga diri yang rendah tetapi mampu merebut pasanganmu hanya dalam semalam. Harga diri kamu terkoyak oleh perempuan yang menukarkan seksnya dengan uang.
Kamu begitu ingin melakukan semua imajinasi-imajinasi itu tetapi kamu begitu takut akan dosa dan hukuman masyarakat. Kamu tidak kuat melihat mereka tertawa diatas kesakitanmu dan kamu hanya bisa memendamnya dalam hati dan terus meredamnya agar tidak meledak. Kamu kalah total.

2 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://indeks.blogsome.com/2006/03/15/rasa-marah/trackback/

  1. 9
    benar-benar kekalahan yang luar biasa …

    Comment by vendy — March 24, 2006 @ 6:55 am

  2. Biar ngga’ marah di Servo aja …

    http://servocenter.wordpress.com/

    Comment by Abdi Cipta — August 23, 2006 @ 6:08 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Janis Joseph