MAKAN MALAM
oleh : David Vd
“Beli apa Mas?” Mang sayur bertanya.
“Daging sapi sekilo,…” Yudi membacakan daftar belanjaannya untuk makan malam bersama Michelle.
“Ada lagi Mas?” Mang sayur membungkus semuanya ke dalam plastik.
“Enggak, sudah semua. Jadi berapa Mang?”
“Semuanya jadi 50.700.”
Yudi memberikan uang makan terakhirnya di bulan ini.
“Mang, kalo yang jual lilin ada di mana ya?”
“Disamping pasar ada toko yang jual lilin.” sahut Mang sayur sambil memberikan kembalian.
Kemudian Yudi melangkah pergi, jalan di pasar yang becek membuatnya harus berhati-hati melangkah, apalagi banyak orang berlalu-lalang sambil berdesak-desakkan.
Lalu ia tiba di toko.
“Pak, ada lilin?”
“Ada, perlu berapa?”
“2.”
“400 rupiah.”
Yudi merogoh sakunya untuk mengambil dompet. Dompetnya hilang!
Yudi mencari-cari untuk memastikan. Di saku depan kanan, saku depan kiri, saku belakang kanan, saku belakang kiri. Tidak berbekas sama sekali. Ia mulai menggeledah kantong belanjaannya. Nihil. Kepanikan bercampur amarah melandanya.
Akhirnya ia menemukan uang 300 rupiah di salah satu sakunya yang paling dalam.
“Pak, cuman ada 300 nih, saya kecopetan.”
“Berarti cuman bisa dapat 1 Dik.”
Dengan berat hati Yudi memberikan uangnya.
Dalam pikirannya uang 100 tersebut akan dipakai untuk menelepon. Yudi pun berjalan menuju telepon umum dekat pasar, disamping penjual sabut kelapa.
Yudi mengangkat gagang telepon, sambil berharap telepon ini tidak rusak dan menelan uang terakhirnya. Setelah memasukkan koin iapun menekan nomor telepon Freddy.
“…, Fred, motor lu ada ga? Jemput gua dong, gua kecopetan nih.”
“Ntar ya, gua lihat dulu… ,halo, Yud, motor gua ga ada, lagi dibawa si Anto, gua ga tau kapan dia balik.”
“Ya udah, kalo gitu…”
Tiba-tiba suara terdengar bising dari mesin pengupas kelapa. Yudi menutup telinganya. “Fred, halo,…”
Tut, tut, tut, tut,…waktu tiga menit habis.
Yudi membanting gagang telepon.
Ia terpaksa harus pulang dengan berjalan kaki, 10 km yang terasa seperti jarak ke ujung bumi.
Jalannya mulai melambat ketika ia menjadi lelah. Kedua tangannya terasa sangat pegal meskipun sudah bergantian mengangkut belanjaan.
Satu jam berlalu, ia baru mencapai separuh perjalanan. Matahari memanggang seluruh tubuhnya. Keringat mengalir dari segala penjuru.
Sambil berjalan ia melihat batu di depannya. Yudi mengayunkan kakinya, dan menendang batu itu. Saat itu pula sandalnya putus.
Ketika ia berjongkok di pinggir jalan untuk memperbaiki sandalnya, tiba-tiba sebuah mobil melaju dan menyemburkan lumpur yang menggenang bekas hujan semalam ke seluruh tubuhnya.
@#*
Dua jam kemudian Yudi tiba di rumahnya. Ia letakkan belanjaannya di dapur, dan pergi ke kamar mandi. Ia harus melenyapkan bau kulit yang gosong dan lumpur kering yang memenuhi seluruh badan.
Setelah mandi Yudi bersiap untuk mulai memasak, namun telepon berdering.
“…kebetulan Fred, lu bisa bantuin gua masak ga?”
“Sori Yud, ga bisa, gua diajakin main RO ama Anto nih, tapi ntar malem gua datang koq.”
Dasar si Freddy, kalo dimintain bantuan ga bisa datang. Datangnya cuman kalo minta makan.
Sekarang jam lima, artinya ia hanya punya waktu 2 jam untuk menyelesaikan masakannya.
Yudi segera mengolah semua bahan yang telah dibelinya.
18.40, masakan sudah siap. Waktu tersisa 20 menit untuk berganti pakaian, memakai parfum, menyalakan lilin, memadamkan lampu, dan menyalakan lagu romantis kesukaan Michelle.
Jam berdentang 7 kali. Pintu depan diketuk. Yudi membuka pintu. Michelle dengan senyum manis dan gaun yang indah berdiri di hadapannya. Cantik sekali. Jantung Yudi berdebar-debar.
“Ayo masuk.” Yudi meraih tangan Michelle dan mengajaknya masuk.
“Masakannya sudah siap, kita makan dulu yuk!”
Yudi membawa Michelle menuju ruang makan.
Betapa terkejutnya Yudi ketika melihat Freddy sedang duduk sambil bersendawa.
“Eeeh Yud, ayo makan!” sedangkan semua hidangan sudah lenyap.

8
bener2 lagi sue…
Comment by vendy — March 28, 2006 @ 4:10 am