Reading Lights Writer’s Circle Diary

February 3, 2007

PARADOKS

Filed under: Portfolio - Administrator INdeKS @ 8:56 am

 Semua ini bermula ketika aku melihatnya di kantin kampus. Perempuan yang memakai pakaian hitam putih itu menarik perhatianku. Baju putih yang transparan sehingga aku dapat melihat siluet bra hitam itu mempertontonkan lekuk tubuhnya, menggerakkan nafsu hewaniahku. Hujan deras dan cuaca yang dingin mendorongku untuk berpikiran mesum.

 

Diantara hiruk pikuk mahasiswa yang berebut makanan hangat di kantin, ia hanya meminum satu gelas teh dingin, sangat tidak cocok dengan cuaca. Matanya sibuk mengawasi layar notebooknya dan tangannya sibuk mengetik. Mungkin ia sedang browsing atau chatting karena di kantin ini kami bisa menggunakan jaringan internet gratis.

 

Angin dingin berhembus keras membawa percikan air hujan. Ia memakai jaketnya yang bertuliskan ‘Sastra Inggris 2003’, kemudian ia memeluk dirinya. Ah.. andai saja jaket itu adalah aku. Akan kuberikan hangat tubuhku melalui proses konduksi. Ah..

 

Aku memutuskan untuk mengeluarkan notebook-ku dan menghampirinya.

 

“Hmm.. permisi?” Tanyaku basa-basi.

 

“Ya?” Wajahnya menengadah memperhatikanku yang menjulang tinggi didepannya. Kini bisa kulihat dengan jelas bentuk mukanya yang oval dan mulus bersih tanpa ada noda sedikit pun, alisnya terbentuk rapi dan menyatu pada pangkal hidung.

 

“Mbak lagi pasang internet hotspot ya?”

 

“Iya.” Ia tersenyum.

 

“Hmm.. saya ada masalah login. Padahal saya sudah benar menulis username dan passwordnya.”

 

“Coba saya lihat. Lho.. ini caps locknya nyala. Seharusnya mati.” Ia memijat tombol caps lock.

 

“Oh iya!! Makasih ya!”

 

“Sama-sama.” Ia kembali sibuk dengan notebooknya.

 

“Ehm, mbak. Belum kenalan nih.”

 

“Oh iya. Saya Nanda, sastra inggris 2003.” Ia mengulurkan tangannya.

 

“Saya Yuki, FK 2004. Berarti mbak senior saya. Saya panggil Kak Nanda yah.”

 

“Panggil saja Nanda.”

 

 

 

Semenjak itu aku selalu menyempatkan diri ke fakultas bahasa dan sastra hanya makan siang di kantin sastra atau pura-pura berpapasan dengannya padahal segalanya telah aku rencanakan. Kemudian aku melakukan investigasi kecil untuk mengetahui kostannya, nomer teleponnya dan yang terpenting apakah ia sudah mempunyai pacar atau belum.

 

Terkadang ia dijemput oleh seorang laki-laki. Sepertinya laki-laki itu sudah kerja, bisa kulihat dari potongan pakainnya yang selalu memakai kemeja dan celana kain. Laki-laki itu memang tampan, badannya tinggi dan besar, garis mukanya tegas dan terlihat begitu matang di usianya yang bekisar 27 tahun. Aku sempat dibuat tidak percaya diri dengan kesempurnaannya. Tetapi bukankah ketampanan seseorang itu tidak ada yang abadi?

 

Aksi gerilya ini aku sudahi dan aku jadikan lebih terang-terangan. Aku selalu memulai pembicaraan, mengajaknya makan siang, janjian untuk main internet bersama, mengajaknya keluar, nonton bioskop, memberanikan diri untuk main ke kostannya, mengajaknya ke kostanku dan lainnya. Hingga pada akhirnya aku mengajaknya ke Boscha untuk mengatakan tentang perasaanku. Sengaja aku pilih tempat yang romantis diantara bintang, malam dan dinginnya Lembang. Aku ingin segalanya sempurna, seperti perempuan yang kini berdiri dihadapanku.

 

“Um.. Nanda. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu.”

 

“Tentang?”

 

“Hubungan kita.” Aku menunduk.

 

“Hubungan kita?” Tanyanya heran.

 

“Um.. Aku akan membuat segalanya lebih mudah.” Aku menarik nafas dalam-dalam.

 

Bisa kurasakan Nanda memperhatikanku walaupun aku sedang menunduk, “Uh.. ok!” Ia terus menatapku menunggu aku mengatakan sesuatu.

 

“Hmm.. bilang aku aneh, bilang aku gila, dan bilang kalau kamu benci sama aku. Silahkan bilang sejelas-jelasnya.” Aku menatap matanya. Mata yang tidak pernah membuatku tahan untuk tidak memandang barang satu menit saja.

 

“Belum ngomong kok menyalahkan diri sih?” Tanyanya sambil tersenyum. Ah.. senyumnya.

 

“Ya.. sebenarnya.. Nanda.. aku itu.. suka sama kamu. Bukan suka sebagai teman atau sahabat tapi.. sebagai pacar.” Aku menutup mata siap dengan segala resiko terburuk bahwa ia akan menamparku, memukulku atau yang paling aku takutkan yaitu ia memutuskan bahwa ia tidak pernah mau kenal denganku lagi.

 

Aku terus menutup mataku bersama diamnya Nanda. Menunggu jawaban adalah episode kehidupan yang paling aku benci. Aku dengar ia menghela nafas panjang kemudian aku rasakan segumpal daging kenyal yang hangat dipipiku. Aku membuka mataku. Kulihat wajahnya yang begitu dekat denganku.

 

“Kamu tahu kalau aku sudah punya pacar?”

 

“Aku tahu.”

 

“Lalu?”

 

“Tapi aku mau kok jadi yang kedua. Jadi selingkuhan kamu.” Harga diriku runtuh bersama jiwa dan raga. Baru kali ini aku menyembah dan memohon seorang perempuan untuk menerimanya walaupun karena kasihan atau menjadi selingkuhan.

 

Nanda tersenyum kemudian memelukku, “Kalau begitu, kenapa kita harus takut?”

 

“Kamu.. kamu.. mau pacaran sama aku?”

 

Ia mengangguk.

 

“Walaupun.. aku.. perempuan?” Tanyaku perlahan.

 

Ia tertawa kemudian berkata, “Aku juga dulu kayak kamu kok.”

 

 

 

***

 

 

 

Simon, sahabat terbaikku sepanjang hayat. Simon, pacar terbaikku sepanjang hayat. Simon, musuh kedua orang tuaku sepanjang hayat.

 

“Kamu udah bilang ke orang tua kamu?” Aku bertanya hati-hati atas ketidakpastian hubungan aku dan dia. Ketidakpastian ini bukan disebabkan masalah masih mencintai atau sudah tidak mencintai pasangan. Tetapi ketidakpastian ini disebabkan karena tidak setujunya orang tua kami sehingga kami bingung apakah kami harus meneruskan hubungan ini atau tidak.

 

Dia hanya bisa diam. Lagi-lagi hanya bisa diam. Ini adalah diam ke beribu kalinya dari beribu pertanyaan yang aku lontarkan selama lima tahun ini. Satu-satunya yang aku benci dari dia adalah sikap diamnya ketika ia tidak bisa menjawab masalah. Ia sangat berbeda denganku. Kalau aku tidak bisa menjawab masalah, aku akan meyakinkan sang penanya bahwa aku akan bisa menjawab pertanyaan secepatnya.

 

“Ah.. kamu belum bilang ke orang tua kamu kalau kita pacaran, kan?”

 

Ia mengangguk.

 

“Argh!!” Aku memukul pahaku dengan frustasi.

 

Aku pikir dengan melakukan kegiatan destruktif ini, ia akan mencoba menjawab pertanyaanku. Tetapi ia terus diam.

 

“Ini udah lima tahun, sayang! Ini bukan waktu yang lama! Umur kita semakin tua.”

 

“Lho, apa sih yang kamu harapkan dari hubungan kita?” Tanya Simon tiba-tiba.

 

Aku kaget dengan pertanyaannya. Nafasku tertahan sehingga aku tidak bisa menjawab.

 

“Kamu udah tahu bahwa dari awal hubungan aku sama kamu itu engga punya harapan apapun, kan?” Tanyanya tanpa memberiku rongga untuk bernafas.

 

“Jadi kamu mau kita putus?” Tanyaku lirih.

 

Lagi-lagi Simon hanya diam.

 

“Kayaknya kamu memang mau kita putus ya?” Aku memastikan jawabannya dengan melihat matanya dalam-dalam, mencoba mengungkap misteri yang tidak bisa aku ungkapkan selama lima tahun ini.

 

Pandangannya segera berpaling dari mataku menuju dashboard mobil.

 

“Kenapa kamu baru ngomong tentang harapan-harapan ini setelah lima tahun? Kenapa engga satu tahun yang lalu, dua tahun yang lalu, tiga tahun yang lalu, empat tahun yang lalu, atau bahkan beberapa hari setelah kita pacaran??” Emosi segera memenuhi relung perasaanku.

 

“Kalau kamu engga bisa memberi aku harapan, bisa-bisanya kamu nembak aku dan bilang kalau kamu cinta sama aku!” Lanjutku.

 

Simon.. Simon.. Laki-laki ganteng itu masih terdiam. Wajahnya yang begitu lelaki termanggu diatas setir mobil. Masih bisa kulihat dengan jelas garis mukanya dari samping. Alisnya yang tebal, bulu matanya yang lentik, matanya yang teduh, hidungnya yang mancung, bibirnya yang tipis dan tulang rahangnya yang kuat. Betul-betul kreativitas Tuhan yang maha sempurna.

 

Pertama kali aku bertemu dengannya di Café Chocolate. Pada saat itu aku dan teman-temanku sedang membicarakan mengenai café yang akan kami buat bersama. Ketika aku jenuh, mataku memandang ke sekeliling café sampai aku melihat sepasang mata cokelat yang teduh memandangku tanpa henti. Aku terus melihat mata itu karena aku pikir mata itu pasti kalah dengan mataku. Tapi ternyata aku salah. Matanya terlalu tajam untuk aku lawan, sehingga aku memutuskan untuk memalingkannya kepada teman-temanku.

 

Setelah aksi sok sibuk dengan teman-temanku, aku memutuskan untuk mencari mata cokelat itu. Ternyata ia masih memandangiku. Kemudian ia menambahkan seulas senyum sehingga bibirnya membentuk garis tipis merah yang halus. Pada saat itu jantungku langsung berdegup keras. Aku langsung bersyukur kepada Tuhan karena love at the first sight itu benar adanya.

 

Kemudian aku balas senyumannya. Ia langsung berdiri dan menghampiriku. Badannya tinggi, besar dan dadanya yang bidang itu terbentuk dengan baik hasil fitness yang teratur. Kemeja tangan panjang itu digulung sampai siku dan kerahnya dibebaskan dari ikatan dasi yang mengekang. Mataku terpaku dengan kesempurnaan bentuknya sampai ia berdiri didepanku.

 

“Simon.” Katanya sambil mengulurkan tangannya.

 

Sejak saat itu, sampai lima tahun ke depan, akulah orang yang paling beruntung yang bisa menikmati setiap inci kesempurnaan tubuhnya.

 

Kini ia dihadapanku, masih seperti yang dulu. Namun kini ia terbelenggu dalam bisu karena masalah yang itu-itu saja. Aku terlalu mencintainya untuk melepaskannya. Aku terlalu nyaman berada disisinya sehingga jika aku putus darinya, aku dilanda ketakukan bahwa aku tidak akan menemukan seseorang yang seperti dia. Segala memori, kenangan, suka dan duka yang tercipta dalam waktu lima tahun, itu terlalu berharga!

 

            “Kamu mau masih diam?” Aku menghela nafas panjang.

 

Ia menggelengkan kepalanya.

 

“Kamu udah tahu kalau orang tua aku sekarang membenciku karena hubungan ini, kan?”

 

Ia mengangguk.

 

“Aku telah mengambil resiko untuk bersama kamu, walaupun itu dibenci orang tua sendiri. Aku sudah berkorban terlalu jauh. Tapi ternyata kamu tidak mau berkorban buat aku. Kalau begitu, selama lima tahun ini, aku salah.”

 

Ia memelukku kemudian mencium pipiku.

 

“Aku bakal bilang sama mereka, sayang. Kamu sabar ya?”

 

Aku selalu luruh dengan hangat bibirnya ketika mencium anggota tubuhku. Tapi pada saat ini, aku tidak boleh kalah.

 

“Kapan?” Tanyaku seraya mendorong badannya kebelakang.

 

Ia kembali diam.

 

“Aku muak dengan kebisuan kamu selama lima tahun ini. Sebaiknya kebisuan diakhiri sampai sini. Itu yang kamu mau, kan?” Aku membuka pintu mobil, bersiap-siap untuk keluar. Namun ia segera menahan tanganku. Ia mencengkram kuat-kuat agar tanganku tidak berontak dan terlepas dari tangannya.

 

“Jadi.. kalau kamu engga mau aku pergi, apa masalahnya?!” Aku berteriak.

 

“Masalahnya adalah orang tua mana sih yang ngga ingin anaknya straight?!” Ia membalas dengan teriak.

 

Aku tertegun kemudian aku menutup pintu mobilnya.

 

“Masalahnya aku dan kamu adalah laki-laki. Masalahnya kamu bukan perempuan. Masalahnya aku sudah dijodohkan dengan perempuan yang bernama Nanda yang terobesesi menjadi sastrawan. Masalahnya jantung ibuku sudah tidak kuat untuk menerima berita-berita yang mengguncang. Masalahnya ibuku sebentar lagi menemui ajalnya!” Ia terengah-engah kemudian ia melanjutkan, “Dan masalah utamanya adalah kamu engga mau ngerti dan aku sendiri ngga ngerti dengan hubungan kita!” Ia memukul setir mobilnya.

 

Aku memeluknya, menempelkan pipiku di pipinya.

 

“Masalahnya aku mempunyai keengganan untuk menjadi kaum minoritas yang  dicerca, dijauhkan, dilaknatkan oleh masyarakat. Aku engga tahu kenapa aku dijauhkan padahal aku ngga pernah berbuat jahat sama mereka dan aku engga pernah berbuat mesum sama kamu didepan mereka, kan? Aku dibilang menyalahi agama. Padahal mereka yang straight juga belum tentu bersih dari dosa.”

 

“Mereka itu bukan kita, sayang. Jadi mereka ngga akan pernah tahu bagaimana rasanya menjadi minoritas yang disisihkan.”

 

“Ironis.”

 

Aku merasakan lelehan air hangat di pipiku. Segera aku hapus dengan menggunakan tanganku.

 

“Buat apa Tuhan menciptakan segala kesempurnaan fisik tapi Tuhan memberi nafsu kepada sesama jenis? Siapa sih yang ngga mau hidup normal? Ini bukan mau aku, sayang! Parameter sosial brengsek! Engga ada batasan yang jelas tapi sok berkuasa” Ia berteriak. Suaranya menggema ke seluruh mobil.

 

“Dengar, sayang. Nikahlah dengan orang lain dan sembunyikan aku dari orang tua kamu.”

 

Ia menatap mataku tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan.

 

“Jadikan aku sebagai selingkuhan kamu selamanya.” Aku menatap matanya penuh dengan keyakinan.

 

“Kamu mau berkorban sejauh itu buat aku? Apa kamu engga akan menikah? Kamu engga ingin punya anak? Hubungan kamu dengan orang tua kamu?”

 

“Aku tidak peduli. Satu-satunya yang aku peduli adalah kamu. Lagian kamu tidak ingin aku membunuh seorang ibu karena beliau shock ketika tahu anaknya suka dengan sesama jenis, kan?”

 

Ia tersenyum.

 


Kemudian aku mencium bibirnya. Kurasakan asin pada lidahku.

Nia

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://indeks.blogsome.com/2007/02/03/paradoks/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Janis Joseph