Reading Lights Writer’s Circle Diary

February 3, 2007

Terdampar

Filed under: Portfolio - Administrator INdeKS @ 8:51 am

Terdampar Awalnya gelap. Gelap sekali. Namun sayup-sayup, telingaku menangkap suara desiran riak air yang seakan-akan naik dan seakan-akan turun. Seringkali suara itu naik meninggi, lalu samar-samar menghilang, lalu riak itu bertambah keras, lalu menghilang lagi, lalu muncul lagi tiba-tiba, lalu menghilang lagi … Tubuhku tak bisa bergerak, seakan sudah terlepas saja dari kepalaku, pikiranku. Lalu pikiran itu datang seperti hantu. Matikah aku … Air yang dingin tiba-tiba menyentuh jari kakiku. Rasanya lembut seperti belaian sayang ibu. Seketika itu inderaku bangkit. Jari jariku menggenggam butir-butir halus. Pasir. Hanya itu yang bisa kusadari. Dimana aku, itulah pikiran yang terbersit pertama kali namun itu bukan masalah. Yang penting aku tahu, bahwa aku hidup. Sedikit demi sedikit aku mulai menyadari, butir-butir kecil yang menempel di sekujur tubuh memberi rasa dingin yang menyentuh kulit. Kesadaran mulai terbangun pada tubuhku yang sedang tergeletak seperti seseorang yang baru saja dilanda mimpi buruk. Kegelapan dimataku mulai sima. Namun itu tak memberikanku gambaran yang berbeda. Sekarang ini seakan ribuan, bahkan jutaan titik-titik terang kecil bertebaran diatas permukaan gelap. Bintangkah? Ya, mungkin bintang. Berarti aku ada di alam bebas. Aku telah terdampar di sebuah pantai entah dimana. Saat ribuan bintang menghilang dan saat hitamnya langit mulai memucat. Aku mulai bisa merasakan anggota tubuhku. Kaku dan sakit disekujur tubuh. Tak bisa bergerak atau berdiri. Hanya pikiranku yang bisa bekerja saat itu. Dan lihat, awan-awan putih jingga mulai menampakkan diri. Entah mengapa wamajingga seakan berkesan buatku. Aku melihatnya entah dimana, setidaknya sebelum ini, aku yakin. Entah berapa lama aku melamun. Awan sekarang sudah memutih, matahari mulai meninggi, membagikan rasa hangatnya pada bumi. Namun jingga tak pemah lepas dari pikiranku. Jingga … Aku ingat sekarang. Bukankah wama jingga pula pesawat yang terakhir aku naiki. Pesawat ! Terakhir, aku memang menaiki sebuah pesawat. Ingin pergi ke luar pulau meninggalkan semua penat yang ada di rumahku. Ayah ibuku yang begitu ingin turut campur pada kehidupanku. Pekerjaan yang begitu membosankan. Seluruh hariku seakan terpatok pada satu hari yang diulangi sepanjang hidup. Seperti satu bagian file yang dicopy dan dipaste terus menerus. Belum lagi omelan panjang kakakku yang nyerocos setiap aku pulang kerja. Tak ada masalah penting. Hanya mengeluh. Mengeluh sepanjang hari. Lalu aku bosan. Bosan dengan semua orang yang ada disini. Mengapa mereka semua harus memaksaku melakukan hal yang sesuai dengan yang mereka mau. Mengapa mereka tak mau setidaknya mengurus diri mereka sendiri. Aku tak habis pikir soal itu. Aku merasa telah banyak bersabar sebetulnya. Namun saat itu kesabaranku habis. Ayah ibu berteriak-teriak di depanku karena nilai kuliahku jeblok. Gelegar emosi mereka umbar sehingga aku seakan mendengar mereka berteriak langsung ke dalam telingaku. Padahal kami berhadap-hadapan, terpisah hanya oleh meja makan. Mereka tak sadar, bahwa aku tak bisa belajar bila mereka terus menghujaniku dengan omelan mereka. Yang kuhafal bukankah materi, melainkan hanya ungkapan-ungkapan kasar yang kudengar dari mereka. Saat itu kesadaranku habis dan entah mengapa aku langsung memesan tiket pesawat. Pergi dari sini. Pergi dari tempat terkutuk ini. Aku tak tahan. Telingaku aku tekan keras-keras sambil ngeloyor pergi keluar rumah. Aku menaiki sebuah pesawat. Ingin pergi jauh dari dunia tempatku berpijak dimana pijakan kaki hanyalah duri-duri tajam. Aku mencari sebuah tanah dimana aku bisa berpijak. Aku masih ingat suara pramugari manis yang menawarkan segelas coca ¬cola padaku. Seorang ibu tua yang duduk di sampingku, yang sambil mendengar i-pod, tertidur dan mendengkur pula. Sepertinya ia kecapekan. Pemandangan-pemandangan laut tanpa batas dad balik jendela membuat pikiranku tenang. Sampai ada pengumuman bahwa pesawat ini akan melalui cuaca buruk. Lalu aku. . . Aku lupa … Aku tak ingat bagian itu. Mungkin begitu buruk, sampai pikiranku sendiri menolaknya. Aku tak man ambil pusing. Yang penting aku sudah bebas. Bebas dari semua gertakan, amarah, cercaan. Di atas pasir yang menghangat, diringi nyanyian camar yang berseliweran di atas langit tak bertuan aku tertawa keras sekali. Sampai rasa puas memenuhi seisi hati. Akhimya aku sendiri. Jauh dari semua orang. Jauh dari semua mahluk yang hanya memberi penat, sakit, dan kebosanan. Jauh dari manusia. Manusia apapun. Aku mulai tersenyum sedikit. Lebih puas lagi saat aku tahu aku sendirian di pulau ini. Beberapa sisa-sisa bangkai kapal berserakan di tepi pantai. Aku mulai bisa berjalan, walau agak tertatih. Tubuhku sakit semua, seakan telah melalui goncangan sangat keras. Siang itu aku berjalan dengan riang, kesana-kemari sambil mengumpulkan barang-barang yang tercecer dan masih dalam kondisi bagus menurutku. Seperti balita yang baru saja mendapat mainan, aku merasa gembira, walau kadang serpihan-serpihan tajam kerap kali melukai kakiku yang melompat-lompat kegirangan. Mengelilingi kumpulan pepohonan yang dikitari oleh pasir. Pasri yang dikitari oleh laut. Laut yang dikitari oleh . . . Sepi. Kata itu langsung terlintas dalam pikiran, membuatku terhenyak. Aku mulai menyadari kekosongan yang perlahan namun pasti menyedot semua rasa gembira dari jiwaku. Tak ada suara tawa canda teman-¬temanku. Tak ada suara pembawa berita televisi. Tak ada suara kendaraan yang biasa terdengar dari depan rumahku. Tak ada suara apapun selain riak ombak yang naik turun dan gesekan dari daun pohon kelapa yang membisik. Aku terduduk di atas tumpukan pasir hangat di hadapan mentari senja yang bersiap pulang. Aku tersenyum sesaat. Aku sendirian. Bebas. Tapi mengapa kebebasanku serasa begitu . . . Sepi.. . Di depan matahari yang beranjak tenggelam, senyumku perlahan bembah menjadi kepahitan. Setetes air mata jatuh di atas permukaan pasir yang halus. Entah mengapa senang itu kini menjadi sesal. "Aku rindu ayah ibu . . .

Yohan

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://indeks.blogsome.com/2007/02/03/terdampar/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Janis Joseph