Reading Lights Writer’s Circle Diary

March 15, 2006

Rasa Senang

Filed under: Emosi Dasar : Senang - Administrator INdeKS @ 12:37 pm

by: Niaw Miaw


 Tugas kuliah kali adalah melakukan penelitian. Sebelum melakukan penelitian, kita harus bimbingan dengan dosen. Proposal telah diketik berdasarkan asumsi ngawur, indikator telah disusun berdasarkan persepsi ngawur.. Proposal pun siap untuk diajukan ke dosen.
"Pak.. ini proposal saya."
Beliau mengambilnya tanpa berbicara. Mukanya lurus, tidak ada guratan senyum. Pokoknya lurus. Matanya bergerak dari kiri ke kanan mengikuti alur tulisan. Coba saya buat jika alur tulisan dimulai dari kanan ke kiri, lalu ke bawah, kemudian ke kanan, diteruskan ke atas, lalu ke kiri dan berhenti ditengah.
"Apa yang ada di pikiran kamu?"
"Hah?" Beliau membangunkan saya dari imajinasi kurang ajar. Jangan-jangan beliau bisa membaca pikiran saya?
"Indikator ini sangat abstrak. Apa yang mau kamu teliti dari sini?" Ia menunjuk kuat-kuat proposal itu.
Beruntung nyawa telah kembali ke badan saya dengan cepat. Akhirnya saya terbangun. "Eerr.. ini, Pak. Saya mau melihat kemampuan seni berbahasa anak."
"Iya. Saya tahu! Saya bisa baca kok judul proposal anda. Wong disini judulnya ditulis dengan menggunakan Times New Roman 20, kapital, italic, underline dan bold! Tapi apa yang akan kamu teliti? Kemampuan membaca dengan intonasi tertentu kah? Kemampuan anak membaca puisi kah?? Atau apa???" Aha! Terlihat dalam imajinasi saya. Semakin dosen bertanya, maka akan semakin banyak jumlah tanda tanya yang akan muncul diakhir kata.
"Saya juga tidak mengerti." Saya mencoba menerapkan falsafah Mengalah Untuk Menang.
"Coba kamu pikir ya. Ini hanya konsep! Bukan indikator!! Kamu itu mahasiswa!! Pemikiran kamu seharusnya tidak sedangkal ini. Harus lebih radikal!!! Goblok!" Saya tertunduk. Terpikirkan juga jumlah tanda seru yang semakin banyak pada akhir tulisan.
"Saya tolak." Dua kata, begitu singkat tetapi bermakna, begitu dalam, begitu meruntuhkan sisi psikologis sehingga bisa membuat kamu sedikit anxiety kemudian hysteria lalu menjadi neurosa.. Yah.. akan lebih dikenal dengan kata GILA. Dengan niat awal menggunakan bolpoint Mount Black-nya dan digantikan dengan Pilot 1500an, dosen mengguratkan tanda silang besar yang menutupi seluruh halaman proposal.
Sempurna.
 
Sekarang waktunya mencari tema baru dengan menerapkan prinsip bahwa tema dapat dicari dalam semalam.
Pukul 19.00 : Berpikir. Dahi kerutkan sampai betul-betul keriput. Tidak ada hasil.
Pukul 19.12 : Mungkin perut masih kosong dan belum ada ide. Makan saja dulu.
Pukul 19.45 : Perut terlalu penuh. Mengantuk.
Pukul 03.01 : Terbangun karena kaget. Gila!! Rencana tidak berhasil. Sekarang harus mikir lagi! Akhirnya tertidur juga.
Pukul 06.32 : Terbangun. Sudah tidak kaget. Tetapi pasrah. Baiklah.. sekarang saya akan mencopy paste proposal sebelumnya. Hanya mengganti judul, tujuan, landasan teori dan indikator. Ajukan tema ngawur satu lagi.
 
"Pak, ini proposal saya." Proposal diajukan dihari berikutnya.
Dosen melihat. Ada tatapan siap menyerbu didalamnya. Ketika membaca judul penelitian, dahinya berkerut. Ketika membaca tujuan, semakin berkerut. Ketika membaca landasan teori, tidak kalah mengkerut. Ketika membaca indikator.. Oh.. semoga bola mata itu tidak keluar dari habitatnya karena adanya tegangan di dahi. Kegagalan hidup saya terlihat dari jumlah kerutan dahi yang ada.
"Sempurna."
Saya terdiam.
"Ini betul-betul sempurna."
Tetap terdiam. Berharap bahwa itu hanya sindiran..
"Kamu adalah orang yang menjelaskan indikator ini dengan jelas. Teman-teman kamu yang lain hanya konsep saja. Mereka itu goblok. Tetapi ini berbeda, ini betul-betul dapat diamati."
Saya betul-betul terdiam. Dugaan buruk pun terlontar jauh. Sinisme, sarkasme, sadisme.. betul-betul terlontar jauh!
"Besok kamu boleh memulai penelitian. Selamat."
Ia menjabat tangan saya dengan penuh optimis.
Saya hanya terdiam. Terguncang. Seirama dengan guncangan jabatan tangan. Namun hati ini berteriak senang. Yippy!!

March 8, 2006

MAKAN MALAM

Filed under: Emosi Dasar : Senang - Administrator INdeKS @ 11:34 am

Kakiku melangkah gontai. Tubuhku semakin lemah tak berdaya. Angin malam mendekapku erat sambil mengerogoti seluruh tulang-tulangku. Yang kuinginkan saat ini hanyalah makanan, secuil, sesendok, segenggam, apapun itu.

 Semakin lama pandanganku menjadi semakin kabur, dan aku hanya bisa mengandalkan hidung untuk menuntunku kepada makanan.

Langkahku menjadi semakin berat. Langkah? Aku bahkan tidak lagi melangkah, aku menyeret kaki-kakiku. Tiba-tiba bau makanan menusuk masuk ke dalam hidungku. Kukumpulkan segenap kekuatan yang tersisa menuju sumbernya.

Dengan tertatih-tatih kucoba mempercepat langkah. Namun ternyata sudah ada yang mendahului aku. Mereka langsung menghabiskan semuanya tanpa sisa.

Kakiku tak kuat lagi menopang tubuhku. Aku terjatuh dan berbaring di atas aspal dingin yang tidak peduli dengan penderitaanku. Tembok-tembok berdiri dengan angkuh mengelilingiku, mereka bahkan tidak memperlihatkan wajahnya.

Lalu, akupun menoleh, tampak seorang pria berpakaian putih keluar dari salah satu pintu yang berbaris pada dinding-dinding tebal. Ia mengenakan sesuatu di kepala. Tampaknya itu adalah sebuah topi. Topi yang lucu karena bentuknya seperti roti tawar yang belum dipotong, tinggi menjulang berwarna putih. Sepertinya ia adalah seorang juru masak.

Pintu itu setengah terbuka. Ruangan di balik pintu itu adalah sebuah dapur. Cahaya lampu memenuhi seluruh ruangan dapur. Dari sini aku bisa melihat sepotong daging diatas piring. Asap mengepul dari daging itu. Aromanya sudah cukup membuatku kenyang. Sangat lezat.

Aku akan berlari secepat mungkin masuk ke dalam dapur, menuju meja dan menyantap habis daging di piring sebelum si juru masak kembali. Aku bisa merasakan kenikmatan dalam setiap kunyahan. Daging yang lembut dan empuk masuk ke dalam mulutku. Lidahku sungguh menikmati rasa manis yang menjejali rongga mulutku. Kenikmatan yang luar biasa merasuk melewati tenggorokan, mengalir terus hingga menempati ruang dalam perutku yang sudah 2 hari tak berpenghuni.

Tiba-tiba aku mendengar suara bising melintasi diriku. Seketika itu juga sekujur tubuhku terasa sakit sekaligus hangat. Kepalaku basah, demikian juga seluruh tubuhku. Namun aku tidak peduli, aku akan terus menikmati gigitan demi gigitan daging yang gurih ini sampai aku merasa puas.

Kumakan potongan terakhir. Kukunyah hingga habis tak bersisa. Kutarik napas panjang dan kuhembuskan perlahan dengan perasaan lega. Aku begitu bahagia malam ini. Kutersenyum mengakhiri malam. Si juru masak kembali. Ia berjalan menuju ke dapur. Tiba-tiba matanya tertuju pada benda hitam di atas aspal. Ternyata itu adalah seekor tikus yang mati tergilas dengan mata menatap ke dapur.

March 2, 2006

Kekasihku Pulang

Filed under: Emosi Dasar : Senang - Administrator INdeKS @ 4:14 pm

Bajuku rok lebar merah jambu. Saat aku berputar, rok itu mengembang di sekeliling badanku. Satu set dengan baju itu adalah pita rambut warna dadu dari beludru. Tapi, aku tak suka memakainya. Rambutku pendek.

Baju merah jambu itu membuatku terlihat lebih tinggi, lebih langsing, lebih putih. Terkadang kalau aku berkaca, warnanya membuatku pipiku kelihatan bersemu, segar, berseri. Cantik!

Jadi sore itu aku memakainya.

Aku juga sengaja mandi lebih lama. Pakai air hangat dan menggosok badanku hati-hati pula. Sesudahnya mengenakan bedak wangi dan berbagai bahan kimia yang membuatku tampak seperti Cleopatra.

Atau, paling tidak begitu kata iklannya.

Tentu saja! Tentu saja!

Aku berdandan seperti ini untuk memikat hati Mark Anthony-ku. Dia akan tiba dengan pesawat sore jam 3.

Sekarang aku sudah rapi wangi, yang jadi masalah adalah, bagaimana caranya ke bandara?

"Taksi! TAKSI!"

Memang sudah nasib, aku bego tidak mempertimbangkan bahwa jam segini waktunya pulang kantor. Yang artinya, macet! Yang artinya juga, banyak taksi lewat, tapi semuanya penuh!

Setelah hampir marah aku ditolak beberapa taksi, akhirnya satu menepi.

"Cengkareng, Pak!"

Dalam taksi aku berkaca. Curi-curi di kaca spion karena malas membuka kantung kosmetik. Si supir taksi melirik. Dih, genit, memang salah kalau aku ingin memeriksa dandananku?

Perjalanan itu cukup lama. Aku berdebar-debar sepanjangnya. Masuk pintu tol. Macet. Keluar pintu tol. Antri. Masuk pintu tol. Panas. Keluar pintu tol. Debu. Untung AC itu dingin, segar, dan taksi ini ada ACnya.

Pukul empat kurang aku sampai di depan gerbang kedatangan penerbangan internasional. Jantungku rasanya mau lepas karena cemas. Uang bayar taksi sudah kusiapkan semenjak masuk areal Cengkareng. Sejauh gerbang selamat datang. Aku langsung lari ke dalam tanpa perduli uang kembalian.

Itu dia! Sudah menungguku! Ah, dia cakep banget pakai kaus biru! Aku menubruknya lega. Kakiku lecet dan tadi hampir patah terkilir waktu lari pakai hak tinggi.

"Maaf! Nunggu lama, ya?"

Dia berbalik dan terpana melihatku.

"Anto! Ngapain lu pake baju cewek gitu?!"

Arin dan Animasi

Filed under: Emosi Dasar : Senang - Administrator INdeKS @ 4:08 pm

“Haa.. “

Arin menarik nafas lega, pekerjaan yang menimpa dan mendera serta membelenggunya di depan monitor komputer selama dua setengah minggu ke belakang, sudah selesai.

Bagi orang lain ia tampak seperti pengangguran, bekerja di rumah, tidak pernah keluar. Tapi untuk Arin hal itu sama sekali berbeda.

Setelah kliennya memaksa untuk mempercepat jadwal deadline, dengan biaya hanya setengah dari sebelumnya, yang akhirnya diturunkan lagi menjadi sepersepuluhnya. Arin hanya bisa menyetujui kontrak merugikan itu, yang berarti ia sudah mendapat proyek animasi satu episode selama delapan belas menit, seharga uang jajannya selama sebulan, seratus lima puluh ribu rupiah. Untuknya, jumlah itu benar-benar pas.

Masalahnya sekarang, ia diharuskan menyelesaikan proyek yang biasanya memakan waktu dua hingga tiga bulan menjadi seperenamnya !

Awalnya ia sempat stress. Kini dalam pengerjaannya, ia depresi. Listrik dan telepon yang belum dibayar dapat diputus setiap saat, padahal tuntutan deadline tidak dapat diundur lagi. Ia harus begadang selama dua puluh hari, lengkap dengan makanan mie cap ayam dua telor, tanpa kopi. Mungkin sedikit nyamuk.

Menjelang hari ketujuh belas, gejala dehidrasi mulai timbul, ditambah dengan munculnya bentol-bentol merah di sekujur tubuh Arin. Entah apakah dari sekian ribu nyamuk yang mengisap darahnya, ada yang berhasil menularkan demam berdarah atau tidak.

Setiap dua menit ia “hilang” dari pekerjaannya dan bermimpi jatuh dari menara Petronas dan di tengah jalan Arin terhenyak, bangun, lalu melanjutkan kerjanya.

Hari H pun tiba. Karyanya dimaterialisasikan dalam kepingan plastik yang terbungkus rapi. Bapak Soni, kliennya, menerima cd itu dan pembayaran pun ditransfer melalui amplop ke tangan Arin.

Tidak seberapa, tetapi ia tersenyum lega saat menerimanya.

Neraka yang ia alami selama dua setengah minggu telah selesai, dan ranjang rumah sakit di ruang VIP terasa lebih empuk dari kursi jati di depan komputer di rumah kontrakannya, yang kini tidak berlistrik, tidak bertelepon, dan tidak berair.

Life is Not That Hard!

Filed under: Emosi Dasar : Senang - Administrator INdeKS @ 10:41 am

Waktu gue sadar kalau selama ini gue terlalu menjalani hidup terlalu ‘keras’ gue nyesel. Gue pusing seribu keliling kalau tugas gue numpuk (Ye … salah ndiri!), gue stress sendiri kalau dompet gue mulai kempes. Gue itung – itung waktu gue untuk ‘keras’ ke diri gue, lebih banyak dari waktu gue ‘sayang’ sama diri gue.
 Secuil dari banyak hal gue banget yang menurut gue ‘keras’ itu antara lain (Hoho sok serius) :
1.      Gue selalu pengen disukain sama temen – temen gue. Gue nggak mau nunjukin apa yang gue rasain di hati gue. Gue lagi be te mampus kek, gue lagi males ramean kek nggak pernah gue tunjukin. Gue selalu pengen ngelakuin apa yang diinginkan sama temen gue (baca : temen dekat). Oooo so sweet …
2.      Gue selalu merasa bersalah kalau gue makan terlalu banyak makanan berlemak.
3.      Gue nggak mau bensin mobil gue cepet habis, padahal yang namanya bensin kalau dipakai ya pasti habis juga kan. (Pernyataan bodoh hehe!)
4.      Kalau gue nyoba jeans atau baju atau apapunlah! Dan tampak kurang OK di badan gue, gue bakal jadi kesel sendiri sama badan gue.
5.      Seseorang tampang kurang respect sama gue, gue bakal jadi kesel setengah mati sama orang itu. Dan sekaligus kesal setengah mati sama diri gue sendiri (Nah loh!?)
 
   Mungkin ada yang lagi ketawa waktu ngebaca tulisan gue, “Ooo … ‘keras’ lo segitu doang?”. Setiap orang kan beda – beda! Gue kan nggak tahu apa yang menurut lo ‘keras’. Kalau semua orang sama, betapa membosankan hidup ini! Mungkin aja ’keras’nya lo adalah hal yang lebih berat atau bahkan lebih ringan dari gue. Ada temen gue yang stress berat, berikut nangis histeris kalau dia nggak jadi juara kelas (Ha … kalau gue kayak gini dunia kebelah dua!). Ada juga yang pusing tujuh keliling dan nggak mau keluar rumah, kalau ada jerawat matang di hidungnya. Yeah, memang tampak bodoh, tapi beneran ada kok yang kayak gitu! Tergantung karakter, kehidupan, dan pola pikir masing – masing. Coba aja sekarang tulisin hal – hal ’keras’ yang lo lakuin ke diri lo sendiri. Sebodoh apapun itu (Hehe …) atau seekstrim apapun itu, tulis dan jangan berhenti sampai stuck!
   Sebegitu bodohkah gue, nggak bisa menyayangi seseorang yang paling pantas gue sayang? Diri gue sendiri … yang paling mengerti gue … ada kapanpun gue butuhin … paling tahu apa yang gue pengen. Kenapa gue malah bersikap ’keras’ sama diri gue sendiri? Mulai detik ini yang gue pengen cuma jadi lebih sayang sama diri gue. Bukan dengan jadi narsisme sejati yang menganggap diri paling sempurna. Bukan juga dengan cara nggak peduli sama orang lain. Bukan juga dengan egois cuma mementingkan kepentingan sendiri, orang lain anggap numpang! Bukan bukan bukan! Gue yakin pasti pada ngerti deh! Gimana rasanya disayang sama pacar? Berbunga – bunga, dunia terasa berwarna – warni kayak pelangi, makan garam serasa makan madu? Yeah … kira – kira kayak gitu rasanya!
   Walau gue belum hattam belajar sayang sama diri gue sendiri. Tapi gue udah mulai bisa ngerasain dampaknya ke diri gue.

  • Bisa lebih menerima kejadian apapun di sekekeliling gue, seburuk apapun itu.
  • Jadi makin sayang sama orang – orang yang care sama gue. Hey! Menyayangi diri sendiri aja susah kan? Apalagi menyayangi orang lain! Kalau ada seseorang atau berapa orangpun  yang sayang sama lo. Jaga itu sebagai harta karun.(Luv u guys!)
  • Gue jadi lebih bisa ngedenger apa yang gue mau sebenarnya. Dan asli itu nyenengin banget!

 GUYS, HATTAM BARENG YOK … ! J

Lelaki Yang Tepat

Filed under: Emosi Dasar : Senang - Administrator INdeKS @ 10:22 am

         Kisah ini saya dengar dari cerita seorang teman yang baru saja selesai membaca sebuah novel lokal. Saya lupa judul novelnya, tapi yang jelas saya ingin berbagi cerita tersebut dengan siapapun yang membaca tulisan saya ini.

 

 

 


   Terkisah seorang wanita yang sangat sempurna, memiliki tubuh bak model, berwajah cantik, pintar, populer memilih seorang pria yang paling biasa di kampus untuk menjadi suaminya. Pria ini tidak menonjol di kampusnya, berwajah sangat biasa, memiliki nilai-nilai yang standar, bahkan bertubuh lebih pendek dari si wanita.
   Teman-temannya heran, dan berkali-kali berusaha menyadarkan sang wanita bahwa ia telah salah memilih. Bahwa dengan keadaannya yang sempurna, ia seharusnya bisa memilih seorang lelaki yang sempurna pula,  tampan dan sukses sebagai suaminya. Tapi si wanita tak bergeming, ia tetap menjadikan pria yang sangat biasa itu menjadi suaminya. Kepada semuanya ia mengatakan bahwa ia pasti akan bahagia.
   Setelah menikah si wanita hidup dalam kesederhanaan dengan gaji sang suami yang pas-pasan. Teman-temannya berkali-kali menyarankan ia agar bekerja untuk meningkatkan kesejahterannya. Dengan wajah yang sangat cantik dan otak yang cerdas, semua yakin bahwa si wanita dapat dengan mudah mendapatkan pekerjaan dan karir yang sukses. Tapi ia menolak, karena suaminya tak menginginkan istrinya bekerja, dan karena ia ingin mengabdi sepenuhnya kepada suaminya. Dan kepada semuanya ia mengatakan bahwa ia hidupnya bahagia.
   Si wanita tetap dengan setia mendampingi suaminya. Setiap mereka muncul di tempat-tempat umum, semua orang akan berkata, ” Sungguh beruntung si pria mendapatkan wanita secantik itu sebagai istrinya”. Semua keluarganya berkali-kali menyuruhnya bercerai dengan suaminya, agar ia tidak menyia-nyiakan hidupnya, sekali lagi sang wanita menolak. Ia mengatakan bahwa hidupnya sempurna dan bahagia.
   Suatu hari, ketika melahirkan anak yang ketiga, si wanita koma. Semua orang mengatakan kepada si suami agar ia pasrah akan nasib istrinya. Tapi sang suami tak mau menyerah ia selalu berdoa agar istrinya segera sadar. Agar bisa menemani istrinya setiap hari, sang suami melepaskan pekerjaannya. Kepada semua orang ia mengatakan bahwa ia ingin berada di samping istrinya saat istrinya tersadar nanti.
   Setelah tiga bulan si wanita tersadar dari komanya, tapi seluruh tubuhnya menjadi lumpuh, kedua tangan dan kakinya tak dapat di gerakkan. Yang bisa ia lakukan hanyalah terbaring di tempat tidur. 

   Walaupun begitu, sang suami sangat gembira dengan sadarnya sang istri. ”Doa saya telah terjawab. Istri tercinta saya kembali sadar, apalagi yang saya minta?”
   Sejak saat itu sang suami dengan telaten dan penuh kasih merawat istrinya. Setiap hari sebelum berangkat kerja, ia mendadani istrinya. Ia menaburi bedak di wajah istrinya yang tirus, mengolesi lipstik pada bibir istrinya, mengecup sang istri dan mengatakan bahwa hari itu sang istri terlihat sangat cantik. Hal itu ia lakukan setiap hari.
   Sekarang semua orang tidak lagi mengatakan, ” Sungguh beruntung si pria mendapatkan wanita secantik itu sebagai istrinya”. Sekarang semua orang  mengatakan, ”Sungguh beruntung si wanita, mendapatkan pria sebaik itu sebagai suaminya”. 

Dan di sinilah kami

Filed under: Emosi Dasar : Senang - Administrator INdeKS @ 9:42 am

Karena nggak biasa pakai weblog lain, akhirnya belajar lagi dari awal.  Kalau ada salah-salah setting, harap dimaklumi ya…

Postingan yang menyusul ini adalah tulisan-tulisan yang menunggu dikomentari khalayak luas.

Peraturannya begini:

a. Tulisan tersebut diberi nilai dari 1-10

b. Tolong sertakan juga alasan kenapa tulisan tersebut layak mendapatkan nilai tersebut. Kritik dan pujian diharapkan memiliki argumen yang mendidik, membangun, dan memotifasi.

 

Thanks!

The Mods

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Janis Joseph