March 27, 2006
March 15, 2006
Rasa Marah
Oleh: Niaw Miaw
Pernahkah kamu ingin menyatukan badan seseorang dengan tanah melalui hempasan yang mematikan? Mendorongnya dengan pasti melalui ketinggian beribu kaki ke dinginnya tanah kamu hiraukan. Perempuan itu terjatuh. Bebas. Tidak terkendali. Bahkan ketika kamu mengurungkan niat, ia sudah tidak dapat kamu raih dan ia tidak mempunyai kesempatan lagi untuk berpegangan.
Perempuan itu terjun bebas siap menghantam bumi. Ia merasakan panas yang menjalar pada seluruh tubuh. Ingatlah pada seluruh pembuluh darahnya yang pecah dan mengalir melalui mata, hidung, telinga dan mulut. Tulang-tulang kuat yang menopang tubuhnya patah atau remuk, kamu tidak peduli.
Perempuan tidak mati. Malaikat maut tidak mau datang. Ia merasakan sakit yang berkepanjangan. Kamu tidak menyesal karena kamu begitu ingin melihatnya menderita. Atau ternyata perempuan sudah mati tetapi kamu tidak mengetahuinya? Tidakkah kamu lihat hembusan nafas terakhir yang berupa sekumpulan asap yang keluar dari mulutnya? Atau ketika ia tidak merasakan degup jantungnya lagi?
Atau kamu ingin mencoba cara baru dengan menenggelamkannya sampai laut terdalam dengan jangkar yang diikatkan di kakinya? Kamu membawanya ke tengah Hindia dan melemparkannya ke dalam. Ia ketakutan karena disana begitu gelap dan kosong. Ia berontak dan mencoba berenang tetapi semakin tersedot kedalamnya. Ia berteriak tetapi itu adalah suatu kesalahan karena nafas terakhirnya terbang bersama gelembung terakhir.
Perempuan itu butuh udara. Ia panik. Tetapi akhirnya ia lemas. Pasrah. Menyadari bahwa ia tidak bisa menuliskan kata-kata terakhir berbentuk wasiat pada anak yang ditinggalkannya. Perempuan itu menutup mata. Detak jantungnya melemah. Pada saat itu pemburu laut melengkapi kematiannya dengan dramatis. Hiu besar itu mencabik-cabiknya dan memisahkan setiap bagian dari tubuhnya. Kini perempuan itu mati dengan sensasi nyeri dan sakit.
Kamu hanya tertawa melihat akhir dari kehidupan perempuan itu. Begitu dramatis dan tragis. Kamu puas dan lepas. Ada dendam yang telah dilancarkan. Bukankah itu adalah hal yang pantas ia dapatkan? Ia telah mengambil laki-laki yang kamu cintai. Ia mengambilnya tanpa memikirkan perasaanmu dan tidak meninggalkan belas kasih sama sekali. Perempuan yang mempunyai harga diri yang rendah tetapi mampu merebut pasanganmu hanya dalam semalam. Harga diri kamu terkoyak oleh perempuan yang menukarkan seksnya dengan uang.
Kamu begitu ingin melakukan semua imajinasi-imajinasi itu tetapi kamu begitu takut akan dosa dan hukuman masyarakat. Kamu tidak kuat melihat mereka tertawa diatas kesakitanmu dan kamu hanya bisa memendamnya dalam hati dan terus meredamnya agar tidak meledak. Kamu kalah total.
March 13, 2006
Hari Yang Sempurna.
Dina bangun ketika posisi matahari sudah agak tinggi. Ia melirik pada wekernya. Mati. Gagal sudah rencananya untuk berolahraga pagi.
Tak apa, masih ada hari lain.
Pelan-pelan Ia beranjak keluar kamar, berjingkrak menuju kamar mandi. Penuh. Kakaknya sedang konser di dalam. Kemungkinan besar baru selesai ketika hari mulai gelap.Tak apa, Dina masih bisa memandikan wajahnya di wastafel.
Dengan kantuk yang tidak kunjung hilang, ia pergi ke dapur. Matanya terasa berat. Dina membutuhkan secangkir kopi pahit, kental dan panas untuk memacu darahnya mengalir. Sial, si Bibi sedang mudik, anaknya menikah. Dina harus meracik kopi sendiri.Ia mengisi air pada panci, lalu menyalakan kompor. Tidak ada api. Sepertinya gas habis. Ia mencopot selang pada tabung lalu memasangkannya pada tabung cadangan. Ibu selalu membeli dua tabung, satu untuk dipakai, satu untuk saat-saat seperti ini. Kompor akhirnya menyala dan air pun mendidih.
Ia membuka lemari, mengambil cangkir dan membuka kaleng tembaga, tempat kopi. Kosong. Pasti pembantunya lupa membeli. Dina menggeleng-gelengkan kepala sambil membuka kulkas, mencari makanan. Kue-kue basah sudah habis dilahap kakaknya. Tinggal selada dan tomat yang sudah menghitam di bagian ujungnya.Ia memutuskan untuk kembali ke kamar, berganti pakaian. Matahari semakin tinggi, dan cuaca terasa semakin panas.
Ponselnya berbunyi mendadak.“Halo ?” ujarnya heran.
“Dina ? Kamu di mana ? Ujiannya bentar lagi niih !”“Rin, kamu bercanda ya ? Sekarang kan hari minggu ?”
“Dinaaaaa, kamu jangan begooo ! Kemaren sabtu kan kita begadang sampe minggu pagi ! Hayoo, kamu pasti kelupaan sehari kan ? Baru tidur malem banget ya?”"…oh…sial…”
Tanpa pikir panjang Ia menutup teleponnya, memakai seragam sekolahnya, mengambil tas, dan lari keluar rumah. Dina benar-benar lupa jika hari ini adalah hari pertama ujian EBTANAS.
Ia berlari menuju kendaraan angkutan terdekat, hanya untuk berhenti beberapa meter kemudian. Bannya kempes. Dina segera turun dan pindah ke angkutan lain yang sedang mengetem.Ketika sudah berjalan, ia mengambil telepon genggamnya dan menelepon Rina.
“Rin, gua masih boleh masuk, kan?”“Iya, tapi cepetan !”
“Oke oke !”“Hoeek !”
Mendadak seorang pemuda menunduk di depannya, hendak muntah. Seorang temannya segera menyetop angkutan itu dan membawanya keluar. Dina menyadari wajah orang tersebut yang hilang raut rasa mualnya ketika turun“Orang yang aneh…” pikirnya.
Di sekolah, gerbang sudah ditutup, Ia terpaksa memanjat, dan berhasil masuk, walaupun harus terjatuh dari atas gerbang. Lututnya lecet dan pakaiannya agak kotor. Bel berbunyi membuatnya langsung lupa akan rasa sakit dan segera berlari ke kelas. Ia bersyukur tiba sangat tepat waktu.Di dalam kelas, Dina mencari ponselnya untuk dimatikan, tetapi ia tidak menemukan benda itu. Ia mencari di sakunya dan membuka tasnya, nihil.
Dengan lemas ia menyadari bahwa orang yang hendak muntah tadi hanyalah tipu daya, agar temannya bisa mengambil Nokia 7650 miliknya. Dina sudah sering mendengar hal serupa tapi tidak pernah menggubris. Ia menaruh tas dan berjalan ke meja ujian dengan gontai.Bel kedua berbunyi. Pengawas membagikan soal, lalu mengumumkan kepada para peserta agar menaruh kartu ujian di atas meja masing-masing. Dina terkejut, ia berlari ke tempat tasnya, membalikkan dan menumpahkan seluruh isinya, lipstik, lipgloss, deodoran, dan pinsil 2B.
“AAAAAAAAAAAAAAARGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHH”Dina kontan mencabuti rambutnya. Kartu ujian itu tertinggal di meja belajar.
