Reading Lights Writer’s Circle Diary

February 3, 2007

PARADOKS

Filed under: Portfolio - Administrator INdeKS @ 8:56 am

 Semua ini bermula ketika aku melihatnya di kantin kampus. Perempuan yang memakai pakaian hitam putih itu menarik perhatianku. Baju putih yang transparan sehingga aku dapat melihat siluet bra hitam itu mempertontonkan lekuk tubuhnya, menggerakkan nafsu hewaniahku. Hujan deras dan cuaca yang dingin mendorongku untuk berpikiran mesum.

 

Diantara hiruk pikuk mahasiswa yang berebut makanan hangat di kantin, ia hanya meminum satu gelas teh dingin, sangat tidak cocok dengan cuaca. Matanya sibuk mengawasi layar notebooknya dan tangannya sibuk mengetik. Mungkin ia sedang browsing atau chatting karena di kantin ini kami bisa menggunakan jaringan internet gratis.

 

Angin dingin berhembus keras membawa percikan air hujan. Ia memakai jaketnya yang bertuliskan ‘Sastra Inggris 2003’, kemudian ia memeluk dirinya. Ah.. andai saja jaket itu adalah aku. Akan kuberikan hangat tubuhku melalui proses konduksi. Ah..

 

Aku memutuskan untuk mengeluarkan notebook-ku dan menghampirinya.

 

“Hmm.. permisi?” Tanyaku basa-basi.

 

“Ya?” Wajahnya menengadah memperhatikanku yang menjulang tinggi didepannya. Kini bisa kulihat dengan jelas bentuk mukanya yang oval dan mulus bersih tanpa ada noda sedikit pun, alisnya terbentuk rapi dan menyatu pada pangkal hidung.

 

“Mbak lagi pasang internet hotspot ya?”

 

“Iya.” Ia tersenyum.

 

“Hmm.. saya ada masalah login. Padahal saya sudah benar menulis username dan passwordnya.”

 

“Coba saya lihat. Lho.. ini caps locknya nyala. Seharusnya mati.” Ia memijat tombol caps lock.

 

“Oh iya!! Makasih ya!”

 

“Sama-sama.” Ia kembali sibuk dengan notebooknya.

 

“Ehm, mbak. Belum kenalan nih.”

 

“Oh iya. Saya Nanda, sastra inggris 2003.” Ia mengulurkan tangannya.

 

“Saya Yuki, FK 2004. Berarti mbak senior saya. Saya panggil Kak Nanda yah.”

 

“Panggil saja Nanda.”

 

 

 

Semenjak itu aku selalu menyempatkan diri ke fakultas bahasa dan sastra hanya makan siang di kantin sastra atau pura-pura berpapasan dengannya padahal segalanya telah aku rencanakan. Kemudian aku melakukan investigasi kecil untuk mengetahui kostannya, nomer teleponnya dan yang terpenting apakah ia sudah mempunyai pacar atau belum.

 

Terkadang ia dijemput oleh seorang laki-laki. Sepertinya laki-laki itu sudah kerja, bisa kulihat dari potongan pakainnya yang selalu memakai kemeja dan celana kain. Laki-laki itu memang tampan, badannya tinggi dan besar, garis mukanya tegas dan terlihat begitu matang di usianya yang bekisar 27 tahun. Aku sempat dibuat tidak percaya diri dengan kesempurnaannya. Tetapi bukankah ketampanan seseorang itu tidak ada yang abadi?

 

Aksi gerilya ini aku sudahi dan aku jadikan lebih terang-terangan. Aku selalu memulai pembicaraan, mengajaknya makan siang, janjian untuk main internet bersama, mengajaknya keluar, nonton bioskop, memberanikan diri untuk main ke kostannya, mengajaknya ke kostanku dan lainnya. Hingga pada akhirnya aku mengajaknya ke Boscha untuk mengatakan tentang perasaanku. Sengaja aku pilih tempat yang romantis diantara bintang, malam dan dinginnya Lembang. Aku ingin segalanya sempurna, seperti perempuan yang kini berdiri dihadapanku.

 

“Um.. Nanda. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu.”

 

“Tentang?”

 

“Hubungan kita.” Aku menunduk.

 

“Hubungan kita?” Tanyanya heran.

 

“Um.. Aku akan membuat segalanya lebih mudah.” Aku menarik nafas dalam-dalam.

 

Bisa kurasakan Nanda memperhatikanku walaupun aku sedang menunduk, “Uh.. ok!” Ia terus menatapku menunggu aku mengatakan sesuatu.

 

“Hmm.. bilang aku aneh, bilang aku gila, dan bilang kalau kamu benci sama aku. Silahkan bilang sejelas-jelasnya.” Aku menatap matanya. Mata yang tidak pernah membuatku tahan untuk tidak memandang barang satu menit saja.

 

“Belum ngomong kok menyalahkan diri sih?” Tanyanya sambil tersenyum. Ah.. senyumnya.

 

“Ya.. sebenarnya.. Nanda.. aku itu.. suka sama kamu. Bukan suka sebagai teman atau sahabat tapi.. sebagai pacar.” Aku menutup mata siap dengan segala resiko terburuk bahwa ia akan menamparku, memukulku atau yang paling aku takutkan yaitu ia memutuskan bahwa ia tidak pernah mau kenal denganku lagi.

 

Aku terus menutup mataku bersama diamnya Nanda. Menunggu jawaban adalah episode kehidupan yang paling aku benci. Aku dengar ia menghela nafas panjang kemudian aku rasakan segumpal daging kenyal yang hangat dipipiku. Aku membuka mataku. Kulihat wajahnya yang begitu dekat denganku.

 

“Kamu tahu kalau aku sudah punya pacar?”

 

“Aku tahu.”

 

“Lalu?”

 

“Tapi aku mau kok jadi yang kedua. Jadi selingkuhan kamu.” Harga diriku runtuh bersama jiwa dan raga. Baru kali ini aku menyembah dan memohon seorang perempuan untuk menerimanya walaupun karena kasihan atau menjadi selingkuhan.

 

Nanda tersenyum kemudian memelukku, “Kalau begitu, kenapa kita harus takut?”

 

“Kamu.. kamu.. mau pacaran sama aku?”

 

Ia mengangguk.

 

“Walaupun.. aku.. perempuan?” Tanyaku perlahan.

 

Ia tertawa kemudian berkata, “Aku juga dulu kayak kamu kok.”

 

 

 

***

 

 

 

Simon, sahabat terbaikku sepanjang hayat. Simon, pacar terbaikku sepanjang hayat. Simon, musuh kedua orang tuaku sepanjang hayat.

 

“Kamu udah bilang ke orang tua kamu?” Aku bertanya hati-hati atas ketidakpastian hubungan aku dan dia. Ketidakpastian ini bukan disebabkan masalah masih mencintai atau sudah tidak mencintai pasangan. Tetapi ketidakpastian ini disebabkan karena tidak setujunya orang tua kami sehingga kami bingung apakah kami harus meneruskan hubungan ini atau tidak.

 

Dia hanya bisa diam. Lagi-lagi hanya bisa diam. Ini adalah diam ke beribu kalinya dari beribu pertanyaan yang aku lontarkan selama lima tahun ini. Satu-satunya yang aku benci dari dia adalah sikap diamnya ketika ia tidak bisa menjawab masalah. Ia sangat berbeda denganku. Kalau aku tidak bisa menjawab masalah, aku akan meyakinkan sang penanya bahwa aku akan bisa menjawab pertanyaan secepatnya.

 

“Ah.. kamu belum bilang ke orang tua kamu kalau kita pacaran, kan?”

 

Ia mengangguk.

 

“Argh!!” Aku memukul pahaku dengan frustasi.

 

Aku pikir dengan melakukan kegiatan destruktif ini, ia akan mencoba menjawab pertanyaanku. Tetapi ia terus diam.

 

“Ini udah lima tahun, sayang! Ini bukan waktu yang lama! Umur kita semakin tua.”

 

“Lho, apa sih yang kamu harapkan dari hubungan kita?” Tanya Simon tiba-tiba.

 

Aku kaget dengan pertanyaannya. Nafasku tertahan sehingga aku tidak bisa menjawab.

 

“Kamu udah tahu bahwa dari awal hubungan aku sama kamu itu engga punya harapan apapun, kan?” Tanyanya tanpa memberiku rongga untuk bernafas.

 

“Jadi kamu mau kita putus?” Tanyaku lirih.

 

Lagi-lagi Simon hanya diam.

 

“Kayaknya kamu memang mau kita putus ya?” Aku memastikan jawabannya dengan melihat matanya dalam-dalam, mencoba mengungkap misteri yang tidak bisa aku ungkapkan selama lima tahun ini.

 

Pandangannya segera berpaling dari mataku menuju dashboard mobil.

 

“Kenapa kamu baru ngomong tentang harapan-harapan ini setelah lima tahun? Kenapa engga satu tahun yang lalu, dua tahun yang lalu, tiga tahun yang lalu, empat tahun yang lalu, atau bahkan beberapa hari setelah kita pacaran??” Emosi segera memenuhi relung perasaanku.

 

“Kalau kamu engga bisa memberi aku harapan, bisa-bisanya kamu nembak aku dan bilang kalau kamu cinta sama aku!” Lanjutku.

 

Simon.. Simon.. Laki-laki ganteng itu masih terdiam. Wajahnya yang begitu lelaki termanggu diatas setir mobil. Masih bisa kulihat dengan jelas garis mukanya dari samping. Alisnya yang tebal, bulu matanya yang lentik, matanya yang teduh, hidungnya yang mancung, bibirnya yang tipis dan tulang rahangnya yang kuat. Betul-betul kreativitas Tuhan yang maha sempurna.

 

Pertama kali aku bertemu dengannya di Café Chocolate. Pada saat itu aku dan teman-temanku sedang membicarakan mengenai café yang akan kami buat bersama. Ketika aku jenuh, mataku memandang ke sekeliling café sampai aku melihat sepasang mata cokelat yang teduh memandangku tanpa henti. Aku terus melihat mata itu karena aku pikir mata itu pasti kalah dengan mataku. Tapi ternyata aku salah. Matanya terlalu tajam untuk aku lawan, sehingga aku memutuskan untuk memalingkannya kepada teman-temanku.

 

Setelah aksi sok sibuk dengan teman-temanku, aku memutuskan untuk mencari mata cokelat itu. Ternyata ia masih memandangiku. Kemudian ia menambahkan seulas senyum sehingga bibirnya membentuk garis tipis merah yang halus. Pada saat itu jantungku langsung berdegup keras. Aku langsung bersyukur kepada Tuhan karena love at the first sight itu benar adanya.

 

Kemudian aku balas senyumannya. Ia langsung berdiri dan menghampiriku. Badannya tinggi, besar dan dadanya yang bidang itu terbentuk dengan baik hasil fitness yang teratur. Kemeja tangan panjang itu digulung sampai siku dan kerahnya dibebaskan dari ikatan dasi yang mengekang. Mataku terpaku dengan kesempurnaan bentuknya sampai ia berdiri didepanku.

 

“Simon.” Katanya sambil mengulurkan tangannya.

 

Sejak saat itu, sampai lima tahun ke depan, akulah orang yang paling beruntung yang bisa menikmati setiap inci kesempurnaan tubuhnya.

 

Kini ia dihadapanku, masih seperti yang dulu. Namun kini ia terbelenggu dalam bisu karena masalah yang itu-itu saja. Aku terlalu mencintainya untuk melepaskannya. Aku terlalu nyaman berada disisinya sehingga jika aku putus darinya, aku dilanda ketakukan bahwa aku tidak akan menemukan seseorang yang seperti dia. Segala memori, kenangan, suka dan duka yang tercipta dalam waktu lima tahun, itu terlalu berharga!

 

            “Kamu mau masih diam?” Aku menghela nafas panjang.

 

Ia menggelengkan kepalanya.

 

“Kamu udah tahu kalau orang tua aku sekarang membenciku karena hubungan ini, kan?”

 

Ia mengangguk.

 

“Aku telah mengambil resiko untuk bersama kamu, walaupun itu dibenci orang tua sendiri. Aku sudah berkorban terlalu jauh. Tapi ternyata kamu tidak mau berkorban buat aku. Kalau begitu, selama lima tahun ini, aku salah.”

 

Ia memelukku kemudian mencium pipiku.

 

“Aku bakal bilang sama mereka, sayang. Kamu sabar ya?”

 

Aku selalu luruh dengan hangat bibirnya ketika mencium anggota tubuhku. Tapi pada saat ini, aku tidak boleh kalah.

 

“Kapan?” Tanyaku seraya mendorong badannya kebelakang.

 

Ia kembali diam.

 

“Aku muak dengan kebisuan kamu selama lima tahun ini. Sebaiknya kebisuan diakhiri sampai sini. Itu yang kamu mau, kan?” Aku membuka pintu mobil, bersiap-siap untuk keluar. Namun ia segera menahan tanganku. Ia mencengkram kuat-kuat agar tanganku tidak berontak dan terlepas dari tangannya.

 

“Jadi.. kalau kamu engga mau aku pergi, apa masalahnya?!” Aku berteriak.

 

“Masalahnya adalah orang tua mana sih yang ngga ingin anaknya straight?!” Ia membalas dengan teriak.

 

Aku tertegun kemudian aku menutup pintu mobilnya.

 

“Masalahnya aku dan kamu adalah laki-laki. Masalahnya kamu bukan perempuan. Masalahnya aku sudah dijodohkan dengan perempuan yang bernama Nanda yang terobesesi menjadi sastrawan. Masalahnya jantung ibuku sudah tidak kuat untuk menerima berita-berita yang mengguncang. Masalahnya ibuku sebentar lagi menemui ajalnya!” Ia terengah-engah kemudian ia melanjutkan, “Dan masalah utamanya adalah kamu engga mau ngerti dan aku sendiri ngga ngerti dengan hubungan kita!” Ia memukul setir mobilnya.

 

Aku memeluknya, menempelkan pipiku di pipinya.

 

“Masalahnya aku mempunyai keengganan untuk menjadi kaum minoritas yang  dicerca, dijauhkan, dilaknatkan oleh masyarakat. Aku engga tahu kenapa aku dijauhkan padahal aku ngga pernah berbuat jahat sama mereka dan aku engga pernah berbuat mesum sama kamu didepan mereka, kan? Aku dibilang menyalahi agama. Padahal mereka yang straight juga belum tentu bersih dari dosa.”

 

“Mereka itu bukan kita, sayang. Jadi mereka ngga akan pernah tahu bagaimana rasanya menjadi minoritas yang disisihkan.”

 

“Ironis.”

 

Aku merasakan lelehan air hangat di pipiku. Segera aku hapus dengan menggunakan tanganku.

 

“Buat apa Tuhan menciptakan segala kesempurnaan fisik tapi Tuhan memberi nafsu kepada sesama jenis? Siapa sih yang ngga mau hidup normal? Ini bukan mau aku, sayang! Parameter sosial brengsek! Engga ada batasan yang jelas tapi sok berkuasa” Ia berteriak. Suaranya menggema ke seluruh mobil.

 

“Dengar, sayang. Nikahlah dengan orang lain dan sembunyikan aku dari orang tua kamu.”

 

Ia menatap mataku tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan.

 

“Jadikan aku sebagai selingkuhan kamu selamanya.” Aku menatap matanya penuh dengan keyakinan.

 

“Kamu mau berkorban sejauh itu buat aku? Apa kamu engga akan menikah? Kamu engga ingin punya anak? Hubungan kamu dengan orang tua kamu?”

 

“Aku tidak peduli. Satu-satunya yang aku peduli adalah kamu. Lagian kamu tidak ingin aku membunuh seorang ibu karena beliau shock ketika tahu anaknya suka dengan sesama jenis, kan?”

 

Ia tersenyum.

 


Kemudian aku mencium bibirnya. Kurasakan asin pada lidahku.

Nia

Terdampar

Filed under: Portfolio - Administrator INdeKS @ 8:51 am

Terdampar Awalnya gelap. Gelap sekali. Namun sayup-sayup, telingaku menangkap suara desiran riak air yang seakan-akan naik dan seakan-akan turun. Seringkali suara itu naik meninggi, lalu samar-samar menghilang, lalu riak itu bertambah keras, lalu menghilang lagi, lalu muncul lagi tiba-tiba, lalu menghilang lagi … Tubuhku tak bisa bergerak, seakan sudah terlepas saja dari kepalaku, pikiranku. Lalu pikiran itu datang seperti hantu. Matikah aku … Air yang dingin tiba-tiba menyentuh jari kakiku. Rasanya lembut seperti belaian sayang ibu. Seketika itu inderaku bangkit. Jari jariku menggenggam butir-butir halus. Pasir. Hanya itu yang bisa kusadari. Dimana aku, itulah pikiran yang terbersit pertama kali namun itu bukan masalah. Yang penting aku tahu, bahwa aku hidup. Sedikit demi sedikit aku mulai menyadari, butir-butir kecil yang menempel di sekujur tubuh memberi rasa dingin yang menyentuh kulit. Kesadaran mulai terbangun pada tubuhku yang sedang tergeletak seperti seseorang yang baru saja dilanda mimpi buruk. Kegelapan dimataku mulai sima. Namun itu tak memberikanku gambaran yang berbeda. Sekarang ini seakan ribuan, bahkan jutaan titik-titik terang kecil bertebaran diatas permukaan gelap. Bintangkah? Ya, mungkin bintang. Berarti aku ada di alam bebas. Aku telah terdampar di sebuah pantai entah dimana. Saat ribuan bintang menghilang dan saat hitamnya langit mulai memucat. Aku mulai bisa merasakan anggota tubuhku. Kaku dan sakit disekujur tubuh. Tak bisa bergerak atau berdiri. Hanya pikiranku yang bisa bekerja saat itu. Dan lihat, awan-awan putih jingga mulai menampakkan diri. Entah mengapa wamajingga seakan berkesan buatku. Aku melihatnya entah dimana, setidaknya sebelum ini, aku yakin. Entah berapa lama aku melamun. Awan sekarang sudah memutih, matahari mulai meninggi, membagikan rasa hangatnya pada bumi. Namun jingga tak pemah lepas dari pikiranku. Jingga … Aku ingat sekarang. Bukankah wama jingga pula pesawat yang terakhir aku naiki. Pesawat ! Terakhir, aku memang menaiki sebuah pesawat. Ingin pergi ke luar pulau meninggalkan semua penat yang ada di rumahku. Ayah ibuku yang begitu ingin turut campur pada kehidupanku. Pekerjaan yang begitu membosankan. Seluruh hariku seakan terpatok pada satu hari yang diulangi sepanjang hidup. Seperti satu bagian file yang dicopy dan dipaste terus menerus. Belum lagi omelan panjang kakakku yang nyerocos setiap aku pulang kerja. Tak ada masalah penting. Hanya mengeluh. Mengeluh sepanjang hari. Lalu aku bosan. Bosan dengan semua orang yang ada disini. Mengapa mereka semua harus memaksaku melakukan hal yang sesuai dengan yang mereka mau. Mengapa mereka tak mau setidaknya mengurus diri mereka sendiri. Aku tak habis pikir soal itu. Aku merasa telah banyak bersabar sebetulnya. Namun saat itu kesabaranku habis. Ayah ibu berteriak-teriak di depanku karena nilai kuliahku jeblok. Gelegar emosi mereka umbar sehingga aku seakan mendengar mereka berteriak langsung ke dalam telingaku. Padahal kami berhadap-hadapan, terpisah hanya oleh meja makan. Mereka tak sadar, bahwa aku tak bisa belajar bila mereka terus menghujaniku dengan omelan mereka. Yang kuhafal bukankah materi, melainkan hanya ungkapan-ungkapan kasar yang kudengar dari mereka. Saat itu kesadaranku habis dan entah mengapa aku langsung memesan tiket pesawat. Pergi dari sini. Pergi dari tempat terkutuk ini. Aku tak tahan. Telingaku aku tekan keras-keras sambil ngeloyor pergi keluar rumah. Aku menaiki sebuah pesawat. Ingin pergi jauh dari dunia tempatku berpijak dimana pijakan kaki hanyalah duri-duri tajam. Aku mencari sebuah tanah dimana aku bisa berpijak. Aku masih ingat suara pramugari manis yang menawarkan segelas coca ¬cola padaku. Seorang ibu tua yang duduk di sampingku, yang sambil mendengar i-pod, tertidur dan mendengkur pula. Sepertinya ia kecapekan. Pemandangan-pemandangan laut tanpa batas dad balik jendela membuat pikiranku tenang. Sampai ada pengumuman bahwa pesawat ini akan melalui cuaca buruk. Lalu aku. . . Aku lupa … Aku tak ingat bagian itu. Mungkin begitu buruk, sampai pikiranku sendiri menolaknya. Aku tak man ambil pusing. Yang penting aku sudah bebas. Bebas dari semua gertakan, amarah, cercaan. Di atas pasir yang menghangat, diringi nyanyian camar yang berseliweran di atas langit tak bertuan aku tertawa keras sekali. Sampai rasa puas memenuhi seisi hati. Akhimya aku sendiri. Jauh dari semua orang. Jauh dari semua mahluk yang hanya memberi penat, sakit, dan kebosanan. Jauh dari manusia. Manusia apapun. Aku mulai tersenyum sedikit. Lebih puas lagi saat aku tahu aku sendirian di pulau ini. Beberapa sisa-sisa bangkai kapal berserakan di tepi pantai. Aku mulai bisa berjalan, walau agak tertatih. Tubuhku sakit semua, seakan telah melalui goncangan sangat keras. Siang itu aku berjalan dengan riang, kesana-kemari sambil mengumpulkan barang-barang yang tercecer dan masih dalam kondisi bagus menurutku. Seperti balita yang baru saja mendapat mainan, aku merasa gembira, walau kadang serpihan-serpihan tajam kerap kali melukai kakiku yang melompat-lompat kegirangan. Mengelilingi kumpulan pepohonan yang dikitari oleh pasir. Pasri yang dikitari oleh laut. Laut yang dikitari oleh . . . Sepi. Kata itu langsung terlintas dalam pikiran, membuatku terhenyak. Aku mulai menyadari kekosongan yang perlahan namun pasti menyedot semua rasa gembira dari jiwaku. Tak ada suara tawa canda teman-¬temanku. Tak ada suara pembawa berita televisi. Tak ada suara kendaraan yang biasa terdengar dari depan rumahku. Tak ada suara apapun selain riak ombak yang naik turun dan gesekan dari daun pohon kelapa yang membisik. Aku terduduk di atas tumpukan pasir hangat di hadapan mentari senja yang bersiap pulang. Aku tersenyum sesaat. Aku sendirian. Bebas. Tapi mengapa kebebasanku serasa begitu . . . Sepi.. . Di depan matahari yang beranjak tenggelam, senyumku perlahan bembah menjadi kepahitan. Setetes air mata jatuh di atas permukaan pasir yang halus. Entah mengapa senang itu kini menjadi sesal. "Aku rindu ayah ibu . . .

Yohan

Ia Membunuh-mu

Filed under: Portfolio - Administrator INdeKS @ 8:46 am

 Aku tahu kamu tidak disana. Saat kita semua sedang berkumpul, membicarakan hal2 menyenangkan yang membuat rileks syaraf-syaraf otak. Tertawa, tanpa ada beban yang ikut bergabung, tapi tidak dengan kamu. Kadang kamu memang ikut tertawa, seolah-olah mengerti apa yang sedang kamu tertawakan. Tapi aku tahu, kamu tidak disana, tawamu hanya formalitas saja.
            Kamu tidak pernah ada disana, sesuatu menyedotmu kesana, ke tempat dimana kamu habiskan tiap jam dan detikmu. Tapi itu diluar kuasamu, kalau saja kamu bisa kamu ingin pergi dari situ. Tapi kamu terjebak di tempat itu. Ya, di alam pikiranmu, tempat dimana Ia berada.
            Itu membuatmu tidak fokus. Kadang kamu tertawa, mengangguk, atau menggelengkan kepala seolah-olah kamu menyimak lawan bicaramu, tapi kamu sebenarnya tidak ada disana, kamu bahkan tidak tahu apa yang sedang dibicarakan karena terkadang tanggapanmu terhadap apa yang sedang dibicarakan sama sekali tidak ber- korelasi.
            Terkadang kamu membagi alam pikiranmu saat kamu resah. Saat kamu merasa terlalu penat untuk kamu simpan sendiri. Kamu akan membicarakannya seolah-olah Ia adalah topik penting yang wajib didengarkan. Kamu bahkan tidak peduli kalupun tidak ada yang mendengarkan atau bahkan peduli, karena sebenarnya kamu hanya butuh untuk menumpahkan perasaanmu. Kamu sebenarnya menceritakan untuk diri kamu sendiri. Itu kamu lakukan agar kamu terus ingat memori-memori tentangnya. Kamu ulang terus apa yang otakmu rekam tentangnya agar Ia tidak punah dari pikiranmu.  Bahkan bagimu sebuah pesan di inbox handphone-mu yang berbunyi, ”ada apa? Lagi nonton, what’s up anyway?”, bisa membuatmu riang seharian, walaupun tidak berarti apa-apa, tapi kamu cukup tenang mengetahui message-mu dibalas. Aku bertaruh pasti message itu akan selalu ada di inbox-mu menyingkirkan message-message lain yang memenuhi inbox-mu.
            Suatu saat aku melihatmu begitu fokus, suatu hal yang jarang sekali kamu lakukan. Kamu tidak lagi ’tersedot’ ke alam itu. Aku tahu karena Ia ada didepan-mu. Kali ini pikiranmu terpusat padanya, seperti alam semesta yang terpusat pada matahari. Sudah kuduga, Ia alasan ketidakfokusanmu. Ia matahari-mu, ketidakfokusanmu berhenti padanya! Kali ini senyuman, anggukan, dan tanggapan-tanggapanmu nyata, bukan hanya sekedar formalitas. Ia cukup untuk-mu, mewakili semua kesenangan-kesenangan-mu.
            Sayang Ia terlalu sempurna untuk menjadi nyata, dan itu membuatmu sadar utuk hanya berhenti di kata ’mengagumi’. Kamu tahu diri, walaupun kamu terlalu silau pada cahaya yang Ia pancarkan sampai-sampai cahaya dirimu tertutup olehnya. Bukan kamu yang tidak berharga, hanya saja kamu memandangnya terlalu tinggi. Kamu tidak berani memilikinya, tapi kamu juga terlalu takut untuk melepasnya. Ia hartamu, kehilanganya sama saja ’jatuh miskin’ bagimu. Itulah yang membuatmu diperbudak perasaan olehnya. Aku tidak bisa menyalahkannya, kamu yang salah.
            ”’Ngga mungkin-lah saya punya perasaan sama dia. Jauh banget dari tipe saya..”, kata-kata ini berhasil merontokkan helai demi helai memorimu tentang ke- maha- an- nya. Tapi kamu bukan hanya ’katarak’, kamu bahkan ’buta permanen’. Kamu terlalu takut sengsara bila kamu hilangkan Ia dari sel-sel otakmu. Lagipula Ia sudah tertanam paten di otakmu. Terlalu sulit untuk mencabutnya. Aku akan malah jahat bila tidak memberitahukan ini padamu. Kupikir lebih baik kamu amputasi Ia dari bagian otakmu. Memang sakit, tapi sudah hanya sekali, tidak akan berkepanjangan. Tapi ternyata aku salah, lukamu tak kunjung sembuh. ’Amputasi’ tidak berhasil untukmu. Lukamu malah meradang. Sudah kubilang agar jangan terlalu mengagungkannya. Kuat tidaknya perasaanmu padanya bergantung pada bagaimana kamu mengembangkannya. Kalau saja kamu bisa membuat perasaanmu ’normal’ padanya, atau paling tidak kamu mengontrolnya agar tidak makin membesar pasti hal ini tidak akan terjadi.
            Lihat Ia sama sekali tidak merasa bersalah pada kematianmu. Kamu telah korbankan nyawamu dengan sia-sia. Kamu pasti jengkel mendengar perkataanya saat Ia membuka kain yang menutupi wajahmu. ”Kasian… pikirannya terlalu pendek”. Ia tidak merasakan beban yang kamu tanggung karenanya. Mungkin bahkan Ia tidak tahu Ia-lah penyebab kamu nekad melakukan perbuatan yang dikutuk Tuhan. Mungkin kamu tidak menemukan surga, bahkan neraka-pun menolakmu. Tapi setidaknya kamu bisa bernapas lega, pikiranmu kini hampa, tidak terisi memori tentangnya. Semoga itu membuatmu bahagia.

Myra Fathira

MATA YANG AKAN AKU TUSUK

Filed under: Portfolio - Administrator INdeKS @ 8:43 am

 Entah kapan aku sadar aku telah menggunakannya. Aku tahu bahwa mataku mulai bermasalah, beberapa bulan, belakangan ini. Aku lupa persisnya kapan. Mataku tidak mempunyai penyakit, seperti katarak atau mengeluarkan air seperti yang dialami seorang teman karena sering main game War Craft sampai larut malam, disaat manusia lain berdamai dan ketakutan dengan mimpi-mimpi mereka.
Tidak, mataku keadaanya seperti mata semua orang. Ia dapat aku gunakan untuk membaca, melihat keindahan alam, bahkan ia kadang awas kalau aku berjalan dalam lorong gelap di sudut-sudut kota ini, kalau jiwaku kalut dan kepalaku dibetot, karena bertumpuknya pertanyaan dan permasalahan- yang sebenarnya ingin aku hindari. Tapi aku tak bisa, karena masalah hidup, akan selalu mengitarimu, dimanapun kamu berada.
Hari-hari belakangan ini, aku merasakan mataku bermasalah. Yang bikin aku jengkel, ia tidak saja sakit pada dirinya sendiri, tetapi ia juga menyakiti organ lain. Jika ia sudah liar, maka aku tidak enak makan, tidak bisa konsentrasi dengan lawan bicaraku, dan yang paling merisaukan adalah jiwaku tidak bisa berdiam dengan damai.
Bagi orang lain, mataku tidaklah biasa. Termasuk seorang perempuan kaya, yang keluar di malam sabtu. Ia mengatakan padaku, aku menyukaimu karena matamu itu begitu indah. Te1ah banyak mata yang telah aku lihat dan aku tatap. Tapi matamu berbeda. Aku sukar untuk menjelaskannya, karena ini masalah rasa. Karena alasan matalah, aku berpisah dengannya. Saat terakhir kali aku memandangnya, di warung tenda tengah malam, ia mengatakan kalau ia akan selalu mengingat bentuk mataku yang indah.
Setelah periatiwa itu aku sadar mataku selalu menebar pesona. Para wanita selalu datang dan mengatakan kalau mereka suka dengan mataku. 0, alasan apakah ini. Apakah taste zaman sudah berubah. Dan yang lebih gila, laki-laki selalu bilang, aku suka sama matamu, sayang kamu laki-laki.
***
Waktu yang paling aku tunggu, pada hari-hari belakangan ini adalah saat malam tiba. Saat mataku capek karena aktifitas melihatnya sepanjang hari. Ketika tidur, aku merasakan jiwaku sungguh tenang. Apalagi kalau mataku bertemu orang suci, apakah seorang sufi, santo, atau biksu tua. Pada saat itu, betapa aku sangat menyukai mataku. Ia menebar aroma kesejukan pada jiwaku yang letih.
Tapi itu hanya sebentar, tidak lebih dari sepertiga hari. Waktu bangun adalah saat yang tidak pernah aku lewatkan untuk memeriksa mataku. Oh, ia seperti ingin bicara padaku, bahwa pada saat inilah mata yang aku miliki menampakan bentuknya yang sempurna. Ia begitu cerah dengan pipi yang memerah. Aku tidak ingin melewati saat-saat pagi dimana aku berada, dengan sebuah cermin segi empat yang aku beli di pasar tradisional. Kaca yang aku bawa kemana-mana untuk memeriksa mataku.
Pada pukul tujuh pagi, aku bisa merasakan mataku berubah. Seperti bunga putri malu yang tersentuh ujung jari. Jika saat itu tiba, aku mulai bersedih dan meratap. Mataku akan mengatakan kalau
is itu bukan milikku lagi. Mats. itu mulai mengikuti keinginan alam. Memandang, melirik, terbelalak dan berkedip nakal.
Terlalu banyak yang seharusnya tidak dipandang. Terlalu banyak lirikan sampah. Tapi mataku tidak bisa membedakan, mana yang diinginkan oleh jiwaku. Mataku tidak pernah tahu keadaaan jiwaku. Ia tidak mau tahu kalau aku lagi senang. Dalam keadaan ini, okelah. Karena semua yang jelek menjadi indah. Seperti kisah penulis tua yang berjualan buku karangannya sendiri, katanya, jika mood lagi bagus, orang berak pun bisa mendatangkan inspirasi. Apakah ini yang disebut dengan relatifitas itu? Mataku tidak pernah memberikan jawabannya.
Tapi alangkah jahatnya mataku, kalau is melirik rok mini, disaat hatiku sedang panas. Ia seperti tidak merasa bahwa dirinya merupakan bagian yang utuh dengan diriku. Ia seperti manusia yang dinasehati berulang kali oleh sang nabi, namun kata suci itu tertahan di pintu daun telinga. Atau untain kata indah yang dibacakan oleh seorang kekasih, tapi ia malah melewati liang telinga. Dan keluar berhamburan tanpa bisa menyisakan makna.
Jika ia berulah, aku mulai cemas. Betapa tidak, pengalaman dengannya selama ini, membuatku sadar, kalau sekarang ia mau :nenjadi musuh. Kalau aku diberi pilihan, tidak memilki mata yang menggoda atau mendaki Himalaya sewaktu musim salju, maka aku tanpa pikir panjang, akan memilih mendaki Himalaya yang tinggi dan dingin itu, walau dengan merangkak sekalipun. Namun aku sadar, ini adalah sebuah pemberian. Kau tahu artinya pemberian? Ya, sesuatu yang diberi, tidak berhak untuk ditanyakan kembali. Toh, kita tidak melempar koin untuk mendapatkannya.
Mataku sungguh lihai. Is tahu kapan mengokang dan kapan menarik picu senapan. Is merayuku dan berusaha menarik hatiku dengan sesuatu yang sepele. Dan karena sepele aku tidak terlalu memperhatikannya. Saat berikutnya, is mulai memberi kenikmatan pada diriku karena ia telah menyampurkan dengan sedikit aroma hasrat. Mirip, semangkuk sup, yang air kaldunya sengaja dibuat tidak terlalu terasa oleh sang koki. Siwaku mulai berubah, karena is menginginkan kenikmatan lebih. Syaraf-syaraf mulai melemah dan berkonsentrasi pada satu titik. Pada saat ini, ia belum yakin kalau ia sudah menaklukan diriku. Maka ia sedikit menambah bumbu yang aku perlukan itu. Setelah itu, is menjadi raja, dan aku sebagai hambanya.
Akalku yang menjadi pengawal dan tentara pembebas, takluk oleh dua biji mata yang indah. Kalau kamu ingin menjadi seorang ahli strategi, belajarlah padanya. Is selalu tahu kapan harus diam dan kapan harus bergerak. Mataku seperti pemain layangan ulung, yang tahu kapan harus narik, kapan harus ulur. Karena ia tahu keinginan dan hembusan angin.
Suatu ketika, langkah kuda membawa tuannya dengan lemah gemulai. Ia ingin menceritakan bahwa kakinya telah is gunakan lebih pada hari ini. Di atas punggungnya, duduk para tentara yang duduk dengan gagah, sambil memegang gagang pedang mereka. Para tentara itu akan memasuki desa, tempat mereka merekah alam. Mereka ingin menceritakan pada istri mereka, bahwa suaminya baru saja menjadi pahlawan dan mengalahkan musuh yang paling ditakuti di seantero sahara.
Mereka juga ingin menceritakan pada anak mereka, kalau ayah mereka adalah seorang tentara perang. Mereka berharap, anak mereka
akan menceritakan kisah heroik ini pada anak cucu mereka suatu saat kelak.
Namun, sang Nabi yang bersama mereka bersuara lantang, kalau ads musuh dalam dirimu. Ia akan selalu bersamamu dan kalau kamu lengah, dia akan menerkanmu. Seperti kata seorang penyair Persia, Hafidz, musuhmu itu seperti Anjing lapar yang tertidur- dan anjing itu sangat banyak. Termasuk mataku ini.
Aku begitu membenci mataku. Tapi disaat yang sama aku bersyukur, karena telah dikarunia mata yang indah. Ia begitu menarik dengan bulu lentik yang mengitarinya. Kediriannya merupakan hasil karya Tuhan, yang tidak bisa ditiru oleh teknologi canggih. Sekalipun tahun tiga ribu sebelas.
Mengingat tindakannya padaku. Aku ingin memberikan pilihan pada diriku sendiri. Memandangnya tiap pagi dan menikmati keindahannya, atau menusuknya dengan dua batang lidi yang diraut ujungnya. Jika pilihan kedua aku lakukan, aku akan sangat menikmati, saat ketika lidi pipih tajam itu bersentuhan dengan kaca tipis yang menyelimuti bola mataku. Lidi itu masuk, bersentuhan dan merobek mataku. Aku mungkin menyesal, tapi dari pada membuat jiwaku mati, aku rela melakukannya. Tidak usah dipertentangkan dan berdalih dengan berbagai alasan rasional, karena ini adalah mataku sendiri.
Sungguh bahagia pemeluk agama atau aliran kebathinan, jika mereka melarang pemeluknya memakan biji mata. Semua biji mata. Apalagi kalau biji mata itu adalah biji mata binatang buas. Dalam mimpiku aku tahu kalau mataku mulai sukar dikendalikan, karena aku mulai suka memakan biji mata binatang buas yang menjadi hidangan yang paling dicari oleh penduduk kota ini.
Tapi apakah kamu tidak rugi, kalau matamu ditusuk. Kamu tidak bisa menikmati celetak-celetik embun pagi yang jatuh dari dedaunan. Menikmati titik-titik hujan yang berkecipak karena berbenturan dengan ubin, yang kamu sukai itu. Kamu juga tidak bisa duduk-duduk di atas pasir putih, di bawah nyiur yang melambai sambil melihat di kejauhan, ombak yang berlari dan menggulung.
Tidak! Aku harus katakan. Aku telah memikirkan masak-masak untuk menusuk mataku sendiri. jika itu lebih baik untukku, maka aku akan melakukannya. Tidak usah banyak omomng, karena ini miliku. Tidak ada pasal yang menjerat, karena pasal berhubungan dengan kesalahan pada orang lain. Kebencianku pada mataku melebihi rasa cinta dan sayangku padanya.
Aku bersumpah, kalau setelah pekerjaan merangkai kata ini sudah selesai. Aku akan pergi ke kamarku. Mengambil lidi yang aku raut kemarin sore. Lalu menusukannya di mataku.
Tidak usah bertanya, beranikah?
Anas, Bandung 9:23 24 November 2005

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Janis Joseph