Entah kapan aku sadar aku telah menggunakannya. Aku tahu bahwa mataku mulai bermasalah, beberapa bulan, belakangan ini. Aku lupa persisnya kapan. Mataku tidak mempunyai penyakit, seperti katarak atau mengeluarkan air seperti yang dialami seorang teman karena sering main game War Craft sampai larut malam, disaat manusia lain berdamai dan ketakutan dengan mimpi-mimpi mereka.
Tidak, mataku keadaanya seperti mata semua orang. Ia dapat aku gunakan untuk membaca, melihat keindahan alam, bahkan ia kadang awas kalau aku berjalan dalam lorong gelap di sudut-sudut kota ini, kalau jiwaku kalut dan kepalaku dibetot, karena bertumpuknya pertanyaan dan permasalahan- yang sebenarnya ingin aku hindari. Tapi aku tak bisa, karena masalah hidup, akan selalu mengitarimu, dimanapun kamu berada.
Hari-hari belakangan ini, aku merasakan mataku bermasalah. Yang bikin aku jengkel, ia tidak saja sakit pada dirinya sendiri, tetapi ia juga menyakiti organ lain. Jika ia sudah liar, maka aku tidak enak makan, tidak bisa konsentrasi dengan lawan bicaraku, dan yang paling merisaukan adalah jiwaku tidak bisa berdiam dengan damai.
Bagi orang lain, mataku tidaklah biasa. Termasuk seorang perempuan kaya, yang keluar di malam sabtu. Ia mengatakan padaku, aku menyukaimu karena matamu itu begitu indah. Te1ah banyak mata yang telah aku lihat dan aku tatap. Tapi matamu berbeda. Aku sukar untuk menjelaskannya, karena ini masalah rasa. Karena alasan matalah, aku berpisah dengannya. Saat terakhir kali aku memandangnya, di warung tenda tengah malam, ia mengatakan kalau ia akan selalu mengingat bentuk mataku yang indah.
Setelah periatiwa itu aku sadar mataku selalu menebar pesona. Para wanita selalu datang dan mengatakan kalau mereka suka dengan mataku. 0, alasan apakah ini. Apakah taste zaman sudah berubah. Dan yang lebih gila, laki-laki selalu bilang, aku suka sama matamu, sayang kamu laki-laki.
***
Waktu yang paling aku tunggu, pada hari-hari belakangan ini adalah saat malam tiba. Saat mataku capek karena aktifitas melihatnya sepanjang hari. Ketika tidur, aku merasakan jiwaku sungguh tenang. Apalagi kalau mataku bertemu orang suci, apakah seorang sufi, santo, atau biksu tua. Pada saat itu, betapa aku sangat menyukai mataku. Ia menebar aroma kesejukan pada jiwaku yang letih.
Tapi itu hanya sebentar, tidak lebih dari sepertiga hari. Waktu bangun adalah saat yang tidak pernah aku lewatkan untuk memeriksa mataku. Oh, ia seperti ingin bicara padaku, bahwa pada saat inilah mata yang aku miliki menampakan bentuknya yang sempurna. Ia begitu cerah dengan pipi yang memerah. Aku tidak ingin melewati saat-saat pagi dimana aku berada, dengan sebuah cermin segi empat yang aku beli di pasar tradisional. Kaca yang aku bawa kemana-mana untuk memeriksa mataku.
Pada pukul tujuh pagi, aku bisa merasakan mataku berubah. Seperti bunga putri malu yang tersentuh ujung jari. Jika saat itu tiba, aku mulai bersedih dan meratap. Mataku akan mengatakan kalau
is itu bukan milikku lagi. Mats. itu mulai mengikuti keinginan alam. Memandang, melirik, terbelalak dan berkedip nakal.
Terlalu banyak yang seharusnya tidak dipandang. Terlalu banyak lirikan sampah. Tapi mataku tidak bisa membedakan, mana yang diinginkan oleh jiwaku. Mataku tidak pernah tahu keadaaan jiwaku. Ia tidak mau tahu kalau aku lagi senang. Dalam keadaan ini, okelah. Karena semua yang jelek menjadi indah. Seperti kisah penulis tua yang berjualan buku karangannya sendiri, katanya, jika mood lagi bagus, orang berak pun bisa mendatangkan inspirasi. Apakah ini yang disebut dengan relatifitas itu? Mataku tidak pernah memberikan jawabannya.
Tapi alangkah jahatnya mataku, kalau is melirik rok mini, disaat hatiku sedang panas. Ia seperti tidak merasa bahwa dirinya merupakan bagian yang utuh dengan diriku. Ia seperti manusia yang dinasehati berulang kali oleh sang nabi, namun kata suci itu tertahan di pintu daun telinga. Atau untain kata indah yang dibacakan oleh seorang kekasih, tapi ia malah melewati liang telinga. Dan keluar berhamburan tanpa bisa menyisakan makna.
Jika ia berulah, aku mulai cemas. Betapa tidak, pengalaman dengannya selama ini, membuatku sadar, kalau sekarang ia mau :nenjadi musuh. Kalau aku diberi pilihan, tidak memilki mata yang menggoda atau mendaki Himalaya sewaktu musim salju, maka aku tanpa pikir panjang, akan memilih mendaki Himalaya yang tinggi dan dingin itu, walau dengan merangkak sekalipun. Namun aku sadar, ini adalah sebuah pemberian. Kau tahu artinya pemberian? Ya, sesuatu yang diberi, tidak berhak untuk ditanyakan kembali. Toh, kita tidak melempar koin untuk mendapatkannya.
Mataku sungguh lihai. Is tahu kapan mengokang dan kapan menarik picu senapan. Is merayuku dan berusaha menarik hatiku dengan sesuatu yang sepele. Dan karena sepele aku tidak terlalu memperhatikannya. Saat berikutnya, is mulai memberi kenikmatan pada diriku karena ia telah menyampurkan dengan sedikit aroma hasrat. Mirip, semangkuk sup, yang air kaldunya sengaja dibuat tidak terlalu terasa oleh sang koki. Siwaku mulai berubah, karena is menginginkan kenikmatan lebih. Syaraf-syaraf mulai melemah dan berkonsentrasi pada satu titik. Pada saat ini, ia belum yakin kalau ia sudah menaklukan diriku. Maka ia sedikit menambah bumbu yang aku perlukan itu. Setelah itu, is menjadi raja, dan aku sebagai hambanya.
Akalku yang menjadi pengawal dan tentara pembebas, takluk oleh dua biji mata yang indah. Kalau kamu ingin menjadi seorang ahli strategi, belajarlah padanya. Is selalu tahu kapan harus diam dan kapan harus bergerak. Mataku seperti pemain layangan ulung, yang tahu kapan harus narik, kapan harus ulur. Karena ia tahu keinginan dan hembusan angin.
Suatu ketika, langkah kuda membawa tuannya dengan lemah gemulai. Ia ingin menceritakan bahwa kakinya telah is gunakan lebih pada hari ini. Di atas punggungnya, duduk para tentara yang duduk dengan gagah, sambil memegang gagang pedang mereka. Para tentara itu akan memasuki desa, tempat mereka merekah alam. Mereka ingin menceritakan pada istri mereka, bahwa suaminya baru saja menjadi pahlawan dan mengalahkan musuh yang paling ditakuti di seantero sahara.
Mereka juga ingin menceritakan pada anak mereka, kalau ayah mereka adalah seorang tentara perang. Mereka berharap, anak mereka
akan menceritakan kisah heroik ini pada anak cucu mereka suatu saat kelak.
Namun, sang Nabi yang bersama mereka bersuara lantang, kalau ads musuh dalam dirimu. Ia akan selalu bersamamu dan kalau kamu lengah, dia akan menerkanmu. Seperti kata seorang penyair Persia, Hafidz, musuhmu itu seperti Anjing lapar yang tertidur- dan anjing itu sangat banyak. Termasuk mataku ini.
Aku begitu membenci mataku. Tapi disaat yang sama aku bersyukur, karena telah dikarunia mata yang indah. Ia begitu menarik dengan bulu lentik yang mengitarinya. Kediriannya merupakan hasil karya Tuhan, yang tidak bisa ditiru oleh teknologi canggih. Sekalipun tahun tiga ribu sebelas.
Mengingat tindakannya padaku. Aku ingin memberikan pilihan pada diriku sendiri. Memandangnya tiap pagi dan menikmati keindahannya, atau menusuknya dengan dua batang lidi yang diraut ujungnya. Jika pilihan kedua aku lakukan, aku akan sangat menikmati, saat ketika lidi pipih tajam itu bersentuhan dengan kaca tipis yang menyelimuti bola mataku. Lidi itu masuk, bersentuhan dan merobek mataku. Aku mungkin menyesal, tapi dari pada membuat jiwaku mati, aku rela melakukannya. Tidak usah dipertentangkan dan berdalih dengan berbagai alasan rasional, karena ini adalah mataku sendiri.
Sungguh bahagia pemeluk agama atau aliran kebathinan, jika mereka melarang pemeluknya memakan biji mata. Semua biji mata. Apalagi kalau biji mata itu adalah biji mata binatang buas. Dalam mimpiku aku tahu kalau mataku mulai sukar dikendalikan, karena aku mulai suka memakan biji mata binatang buas yang menjadi hidangan yang paling dicari oleh penduduk kota ini.
Tapi apakah kamu tidak rugi, kalau matamu ditusuk. Kamu tidak bisa menikmati celetak-celetik embun pagi yang jatuh dari dedaunan. Menikmati titik-titik hujan yang berkecipak karena berbenturan dengan ubin, yang kamu sukai itu. Kamu juga tidak bisa duduk-duduk di atas pasir putih, di bawah nyiur yang melambai sambil melihat di kejauhan, ombak yang berlari dan menggulung.
Tidak! Aku harus katakan. Aku telah memikirkan masak-masak untuk menusuk mataku sendiri. jika itu lebih baik untukku, maka aku akan melakukannya. Tidak usah banyak omomng, karena ini miliku. Tidak ada pasal yang menjerat, karena pasal berhubungan dengan kesalahan pada orang lain. Kebencianku pada mataku melebihi rasa cinta dan sayangku padanya.
Aku bersumpah, kalau setelah pekerjaan merangkai kata ini sudah selesai. Aku akan pergi ke kamarku. Mengambil lidi yang aku raut kemarin sore. Lalu menusukannya di mataku.
Tidak usah bertanya, beranikah?
Anas, Bandung 9:23 24 November 2005